Perempuan di Politik Tak Sekadar Penuhi Kuota Keterwakilan

  • 30 Agt 2026 08:10 WIB
  •  Bogor

RRI.CO.ID, Bogor – Peran perempuan dalam politik dinilai tidak cukup hanya dilihat dari jumlah keterwakilan dalam lembaga politik. Keterlibatan perempuan juga perlu memberikan ruang untuk menyampaikan aspirasi serta ikut memengaruhi kebijakan yang berdampak kepada masyarakat.

Hal tersebut dibahas dalam NGOBRAS Batch 2 dengan tema “Perempuan di Ruang Publik: Politik... Perempuan di Mana?”. Kegiatan yang digelar di Warkopna, Karadenan, Cibinong, Kabupaten Bogor, Jumat, 28 Agustus 2026, tersebut menjadi ruang diskusi mengenai peran perempuan dalam politik dan ruang publik.

Anggota DPRD Kabupaten Bogor, Hj. Nunur Nurhasdian, mengatakan keterlibatan perempuan dalam politik bukan hanya persoalan memenuhi kuota keterwakilan. Menurutnya, perempuan perlu berani menyampaikan pendapat dan mengambil bagian dalam proses pengambilan keputusan.

“Menyuarakan peran perempuan dalam politik bukan cuma soal memenuhi kuota, tetapi memastikan kebijakan publik benar-benar berpihak kepada semua orang. Langkah ini bisa dimulai dari hal terkecil, seperti berani bersuara di komunitas, kritis mengambil keputusan, dan saling mendukung satu sama lain,” ujarnya.

Nunur menilai keberanian perempuan untuk bersuara dapat dimulai dari lingkungan terdekat. Menurutnya, partisipasi tersebut menjadi bagian penting dalam mendorong perempuan agar semakin aktif mengambil peran di ruang publik dan politik.

Sementara itu, Pengamat Politik Jeirry Sumampow mengatakan penguatan keterwakilan perempuan perlu dibarengi dengan penyehatan ruang demokrasi. Ia menilai keterwakilan perempuan sebesar 30 persen tidak seharusnya hanya menjadi angka formalitas.

“Satu poin krusial yang perlu kita garis bawahi adalah penyehatan ruang demokrasi kita. Keterwakilan perempuan 30 persen tidak boleh sekadar menjadi angka formalitas di kertas, tetapi harus menjadi substansi nyata yang memengaruhi pikiran para pembuat undang-undang dan melahirkan kebijakan berkeadilan,” katanya.

Jeirry menambahkan, keberadaan perempuan dalam politik perlu memberikan pengaruh terhadap proses penyusunan kebijakan. Dengan demikian, keterwakilan perempuan tidak hanya memenuhi persyaratan secara administratif, tetapi juga menghasilkan partisipasi yang nyata dalam kehidupan demokrasi.

Melalui NGOBRAS Batch 2, diskusi mengenai perempuan di ruang publik diharapkan dapat mendorong masyarakat, khususnya generasi muda, untuk lebih memahami pentingnya partisipasi perempuan dalam politik. Ruang diskusi tersebut juga menjadi wadah untuk mendorong perempuan agar berani menyampaikan gagasan dan mengambil peran dalam kehidupan publik.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....