Puncak Bogor Terasa Dingin saat Musim Kemarau, ternyata Ini Penyebabnya

  • 23 Agt 2026 13:00 WIB
  •  Bogor

RRI.CO.ID, Bogor - Musim kemarau masih mendominasi sebagian besar wilayah Indonesia. Berdasarkan analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada Dasarian III Juli 2026, sebanyak 73,8 persen wilayah Indonesia atau 516 Zona Musim (ZOM) telah memasuki musim kemarau. Kondisi kering ini masih berlanjut hingga Agustus 2026.

Namun, suasana berbeda justru dirasakan di kawasan Puncak, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Ketika sejumlah daerah mengalami cuaca panas dan kering, kawasan Puncak justru terasa semakin sejuk bahkan dingin, terutama menjelang sore hingga malam hari. Kondisi tersebut bukan berarti Puncak terbebas dari pengaruh musim kemarau, melainkan dipengaruhi sejumlah proses atmosfer.

Dikutip dari laman IPB University, Pakar Iklim Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Dr. Givo Alsepa, menjelaskan bahwa salah satu faktor yang memengaruhi kondisi tersebut adalah masuknya massa udara dari Australia. Pada musim kemarau, pola angin dari Australia menuju Indonesia membawa massa udara yang relatif kering dan lebih dingin.

Menurut Givo, kondisi tersebut berkaitan dengan Monsun Australia. Perbedaan tekanan udara antara Australia dan kawasan Asia membentuk pola angin timuran hingga tenggara yang bergerak menuju Indonesia. Namun, udara dingin yang dirasakan di Puncak bukan semata-mata akibat udara Australia secara langsung, melainkan hasil interaksi berbagai kondisi atmosfer.

Selain pola angin, udara yang relatif kering serta langit yang lebih cerah juga ikut memengaruhi turunnya suhu pada sore hingga malam hari. Minimnya tutupan awan membuat permukaan bumi menerima radiasi matahari lebih optimal pada siang hari. Setelah matahari terbenam, panas dari permukaan bumi kemudian dilepaskan kembali ke atmosfer dan angkasa.

Proses pelepasan panas tersebut berlangsung lebih efektif ketika kandungan uap air dan tutupan awan rendah. Kondisi ini menyebabkan permukaan bumi kehilangan panas dengan lebih cepat setelah matahari terbenam. Fenomena tersebut dikenal sebagai pendinginan radiatif, yang membuat suhu udara di kawasan Puncak dapat turun cukup cepat menjelang malam.

Sementara itu, berdasarkan informasi terbaru BMKG, sebagian besar wilayah Indonesia masih berada dalam kondisi kering karena musim kemarau masih berlangsung hingga September 2026 dengan puncaknya pada Agustus. Meski demikian, hujan lokal masih berpeluang terjadi di sejumlah wilayah. BMKG juga menyebut kondisi atmosfer saat ini dipengaruhi El Niño yang sangat kuat sehingga musim kemarau masih menjadi kondisi dominan di Indonesia.

Dengan demikian, dinginnya Puncak Bogor pada sore hingga malam hari saat musim kemarau bukanlah fenomena yang bertentangan dengan musim kemarau. Kondisi tersebut merupakan kombinasi antara pengaruh Monsun Australia, massa udara yang relatif kering, langit yang cenderung cerah, serta proses pendinginan radiatif setelah matahari terbenam.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....