Yayasan Warga Upadaya Bertransformasi menjadi Pemberdayaan Anak dan Keluarga

  • 05 Agt 2026 08:42 WIB
  •  Bogor

RRI.CO.ID, Bogor – Yayasan Warga Upadaya Bogor terus berkomitmen memperkuat pendampingan bagi anak, keluarga, dan masyarakat melalui berbagai program pemberdayaan yang telah dijalankan selama lebih dari lima dekade. Berawal dari bantuan pendidikan bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera, yayasan tersebut kini mengembangkan pendekatan yang berfokus pada penguatan kapasitas keluarga sebagai lingkungan utama tumbuh kembang anak.

Sekretaris Umum Pengurus Yayasan Warga Upadaya, Diyah Insiyah, menjelaskan cikal bakal yayasan berawal pada pertengahan 1971 ketika organisasi internasional The Christian Children's Fund (CCF) menawarkan kerja sama kepada Pusat Pengembangan Sosial Ekonomi Keuskupan Bogor (PP Sosek KB) untuk memberikan pelayanan kepada anak-anak dari keluarga prasejahtera di wilayah Bogor dan sekitarnya. Kerja sama tersebut kemudian resmi dimulai pada Februari 1972 dan berkembang hingga terbentuk Yayasan Warga Upadaya sebagai lembaga berbadan hukum pada 1981.

"Pada tahun 1981 karena peraturan pemerintah bahwa kerja sama ini harus dilakukan oleh lembaga yang mempunyai status hukum yang formal. Nah, akhirnya pada tahun 1981 itu dibentuklah Yayasan Warga Upadaya. Jadi awalnya kerja sama tersebut dilakukan bersama CCF yang sekarang menjadi ChildFund International di Indonesia," ujar Diyah Insiyah dalam Dialog Pro 1 RRI Bogor edisi Selasa, 4 Agustus 2026.

Menurut Diyah, pada masa awal pelayanan, program yang dijalankan masih bersifat karitatif dengan memberikan bantuan biaya pendidikan kepada anak-anak dari keluarga kurang mampu. Seiring perkembangan kebutuhan masyarakat, pendekatan tersebut kemudian berubah menjadi pemberdayaan keluarga dan masyarakat agar mampu meningkatkan kesejahteraan secara berkelanjutan.

"Jadi awal-awal pelayanan kami adalah bersifat karitatif pada saat itu, seperti memberikan bantuan uang SPP sekolah, uang pangkal sekolah, hingga alat-alat sekolah. Namun dalam perjalanan selanjutnya pelayanan ini berubah menjadi sifatnya pemberdayaan keluarga dan masyarakat yang terjadi hingga saat ini," katanya.

Pimpinan Proyek Warga Upadaya, F. E. Eriyanto, mengatakan perubahan pendekatan tersebut juga diikuti dengan pengembangan model pendampingan yang disesuaikan berdasarkan tahapan usia anak. Pendampingan dimulai sejak anak berada dalam kandungan hingga memasuki usia dewasa muda agar setiap tahap perkembangan memperoleh intervensi yang sesuai dengan kebutuhannya.

"Tahap satu itu 0 sampai 5 tahun, tahap dua 6 sampai 14 tahun, tahap tiga 15 sampai dengan 24 tahun. Di masing-masing life stage itu ada focusing terhadap pendampingan sehingga kebutuhan anak dan keluarga dapat didampingi sesuai tahapan perkembangannya," ujar Eriyanto.

Pada kelompok usia 0–5 tahun, program difokuskan pada penguatan peran orang tua, pemenuhan gizi, serta pendidikan anak usia dini. Sementara pada usia 6–14 tahun yayasan mendorong penerapan positive parenting dan pelibatan anak dalam pengambilan keputusan keluarga, sedangkan pada usia 15–24 tahun pendampingan diarahkan untuk membentuk generasi muda yang mampu menjadi agen perubahan di lingkungan sekitarnya.

Melalui pendekatan pemberdayaan tersebut, Yayasan Warga Upadaya berharap keluarga mampu menjadi fondasi utama dalam mendukung tumbuh kembang anak sekaligus meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat secara berkelanjutan. Pendekatan itu juga diharapkan dapat menciptakan generasi yang memiliki karakter, keterampilan, serta kepemimpinan yang mampu memberikan dampak positif bagi lingkungan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....