BMKG Ingatkan Suhu Dingin Ekstrem Berisiko Ganggu Pertanian
- 29 Jul 2026 08:58 WIB
- Bogor
RRI.CO.ID, Bogor – Penurunan suhu selama musim kemarau perlu diwaspadai oleh masyarakat yang berada di wilayah dataran tinggi. BMKG menyebut suhu dingin ekstrem berpotensi memberikan dampak terhadap sektor pertanian, terutama apabila terjadi hingga mendekati titik beku.
Dalam Dialog Astacita Bogor Pagi Ini Pro 1 RRI Bogor edisi Selasa, 28 Juli 2026, Forecaster BMKG Jawa Barat, Rossian Nursiddiq Islamiardi, mengatakan wilayah pegunungan memiliki karakteristik suhu yang lebih rendah dibandingkan kawasan perkotaan. Salah satu wilayah yang mengalami suhu lebih dingin yakni kawasan Citeko, Puncak, dengan suhu mencapai 16,6 derajat Celsius.
"Faktor geografis sangat berpengaruh karena Bogor memiliki wilayah yang kompleks, termasuk kawasan dataran tinggi. Wilayah seperti Puncak memiliki suhu yang lebih rendah dibandingkan wilayah perkotaan," ujar Rossian.
Menurutnya, suhu rendah yang ekstrem dapat berdampak pada tanaman, khususnya di kawasan pegunungan yang memiliki banyak aktivitas pertanian. Embun beku dapat menyebabkan kerusakan pada daun tanaman apabila suhu turun terlalu rendah.
"Kalau wilayah pegunungan mengalami penurunan suhu ekstrem bahkan mendekati minus, hal itu bisa mengganggu pertanian. Tanaman yang terkena embun beku dapat mengalami kerusakan karena jaringan daun terdampak," katanya.
Rossian menjelaskan, kondisi di wilayah perkotaan Bogor masih relatif aman karena suhu belum mencapai tingkat ekstrem. Namun, masyarakat dan petani di kawasan pegunungan tetap perlu memperhatikan perubahan suhu selama musim kemarau.
"Untuk wilayah kota yang suhunya tidak terlalu rendah masih bisa dikatakan aman. Tetapi wilayah pegunungan perlu lebih waspada karena memiliki risiko suhu yang jauh lebih dingin," jelasnya.
Selain berdampak terhadap pertanian, musim kemarau juga membuat kondisi udara menjadi lebih kering dan meningkatkan risiko polusi serta kebakaran lahan. BMKG meminta masyarakat tidak melakukan pembakaran sampah maupun lahan selama periode tersebut.
"Selain suhu dingin, masyarakat juga perlu memperhatikan kondisi kemarau yang membuat udara kering. Gunakan masker ketika beraktivitas di luar ruangan dan jangan melakukan pembakaran karena dapat memicu kebakaran," ungkap Rossian.
Ia juga mengimbau masyarakat untuk menghemat penggunaan air mengingat sejumlah wilayah mulai menghadapi keterbatasan sumber daya air. Warga diminta tetap menjaga kesehatan dengan menyesuaikan aktivitas terhadap kondisi cuaca.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....