K.H. Mahfud Hidayat: 'Mengukur Kualitas Salat dengan Moralitas'
- 27 Jul 2026 11:56 WIB
- Bogor
Poin Utama
- Kualitas salat tercermin dari akhlak sehari-hari. Salat yang berkualitas tidak hanya sebatas gerakan dan bacaan, tetapi mampu mencegah perbuatan keji dan mungkar serta membentuk perilaku yang lebih baik.
- Tiga unsur utama salat berkualitas. Menurut penjelasan K.H. Mahfud Hidayat mengacu pada tafsir Imam Ibnu Katsir, salat yang berkualitas dibangun atas tiga unsur, yaitu ikhlas karena Allah, khusyuk, dan senantiasa mengingat Allah (zikir).
- Salat yang baik melahirkan karakter mulia. Orang yang melaksanakan salat dengan ikhlas, khusyuk, dan penuh kesadaran akan terdorong untuk bersikap jujur, amanah, sabar, menjaga lisan, serta menjauhi perbuatan yang dilarang Allah SWT.
RRI.CO.ID, Bogor - Salat merupakan ibadah wajib yang menjadi tiang agama dalam kehidupan seorang muslim. Namun, Islam tidak hanya mengajarkan pentingnya melaksanakan salat secara rutin, melainkan juga menekankan kualitas salat yang mampu membentuk karakter dan akhlak seseorang. Inilah tema yang diangkat dalam siaran Mutiara Pagi Pro 1 RRI Bogor bertajuk 'Mengukur Kualitas Salat dengan Moralitas' bersama narasumber Pengurus MUI Kota Bogor, Ust. Mahfud Hidayat, Lc., S.S.I., M.E.I. pada Senin, 27 Juli 2026.
Dalam kajian tersebut dijelaskan bahwa ukuran salat yang berkualitas dapat dilihat dari pengaruhnya terhadap perilaku sehari-hari. Hal ini selaras dengan firman Allah SWT dalam Surah Al-'Ankabut ayat 45, "Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar." Ayat tersebut menegaskan bahwa salat yang benar tidak berhenti pada gerakan dan bacaan, tetapi menghadirkan perubahan nyata dalam kehidupan.
"Salat yang dimaksud dalam Surah Al-Ankabut ayat 45 adalah salat yang berkualitas. Bukan hanya sebatas gerakan dan bacaan, tetapi salat yang mampu mencegah seseorang dari perbuatan keji dan mungkar serta membentuk akhlaknya dalam kehidupan sehari-hari," ujar K.H. Mahfud Hidayat.
Menurutnya, tidak semua orang yang melaksanakan salat otomatis memiliki salat yang berkualitas. Ada kalanya seseorang menjalankan salat hanya sebagai rutinitas sehingga ibadah tersebut belum memberikan dampak terhadap sikap, tutur kata, maupun perilakunya dalam kehidupan bermasyarakat. "Ada yang salatnya hanya menjadi rutinitas, sehingga belum memberikan dampak terhadap moralitas maupun perilakunya. Padahal, ukuran kualitas salat justru terlihat setelah seseorang selesai melaksanakan salat," katanya.
K.H. Mahfud menjelaskan, berdasarkan penafsiran para ulama, termasuk Imam Ibnu Katsir, terdapat tiga unsur utama yang menjadi fondasi salat berkualitas. Unsur pertama adalah ikhlas karena Allah (Al-Ikhlasu lillah). Seluruh ibadah harus dilandasi niat yang tulus semata-mata mengharap ridha Allah, bukan karena ingin dipuji atau memperoleh kepentingan duniawi.
Unsur kedua adalah khusyuk atau ketundukan kepada Allah (Al-Khasyatu Minhu). Kekhusyukan membuat hati dan pikiran benar-benar hadir di hadapan Allah SWT. "Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa salat yang berkualitas memiliki tiga unsur utama, yaitu ikhlas karena Allah, khusyuk atau tunduk kepada Allah, dan senantiasa mengingat Allah dalam setiap bacaan maupun perbuatan. Ketiga unsur inilah yang melahirkan perubahan akhlak," jelasnya.
Sementara unsur ketiga adalah zikir kepada Allah (Dzikrullah), yakni menghadirkan Allah dalam setiap bacaan, gerakan, dan kesadaran selama menjalankan salat. Zikir tidak hanya bermakna ucapan, tetapi juga kesadaran bahwa seluruh aktivitas manusia berada dalam pengawasan Allah SWT.
Menurut K.H Mahfud, ketika ketiga unsur tersebut hadir dalam salat, seseorang akan lebih berhati-hati dalam menjaga ucapan dan perilakunya. "Ketika seseorang benar-benar ikhlas, khusyuk, dan selalu mengingat Allah dalam salatnya, maka ia akan merasa selalu diawasi Allah, bukan hanya ketika sedang salat, tetapi juga setelahnya. Kesadaran itu akan membuatnya lebih berhati-hati dalam berbicara dan bertindak," ungkapnya.
Ia menambahkan, kualitas salat seharusnya tercermin dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari bersikap jujur, amanah, sabar, hingga menjaga lisan dari perkataan yang menyakiti orang lain. "Mulut yang digunakan untuk memuji Allah dalam salat tentu tidak pantas dipakai untuk mengucapkan kata-kata kotor, mencela, atau menyakiti orang lain. Begitu pula tangan dan perbuatan kita harus mencerminkan nilai-nilai yang diajarkan dalam salat," tegasnya.
Melalui Kajian Mutiara Pagi ini, masyarakat diajak untuk tidak hanya memperbaiki kuantitas ibadah, tetapi juga meningkatkan kualitas salat agar benar-benar menjadi sarana pembentukan karakter. "Keberhasilan salat bukan hanya diukur dari seberapa rajin seseorang melaksanakannya, tetapi juga dari sejauh mana salat tersebut membentuk pribadi yang jujur, amanah, sabar, peduli kepada sesama, dan mampu menjauhi perbuatan yang dilarang Allah SWT," pungkas K.H. Mahfud Hidayat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....