Pro 2 Bogor Ajak Generasi Muda Bijak Beragama di tengah Dunia Serba Viral

  • 27 Jul 2026 11:27 WIB
  •  Bogor
Poin Utama
  • Media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, terutama bagi generasi muda
  • Di era ketika berbagai konten dapat dengan cepat menjadi viral, generasi muda dituntut memiliki kemampuan literasi digital sekaligus literasi keagamaan
  • Ustadzah Levana juga mengingatkan bahwa memberikan label ekstrem kepada seseorang tidak boleh dilakukan secara sembarangan

RRI.CO.ID, Bogor - Media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, terutama bagi generasi muda. Di tengah derasnya arus informasi, kemampuan menyaring konten menjadi penting agar tidak mudah terpengaruh informasi menyesatkan maupun provokasi yang mengatasnamakan agama.

Hal tersebut menjadi pembahasan dalam siaran SPADA Pro 2 RRI Bogor bertajuk "Bijak Beragama di Tengah Dunia yang Serba Viral" bersama Penyuluh Agama Islam Kementerian Agama Kota Bogor, Ustadzah Levana Surya, S.Sos., pada Selasa, 21 Juli 2026. Dalam kajian tersebut dijelaskan bahwa agama menjadi landasan utama dalam menentukan kebenaran dan menyikapi berbagai fenomena di media sosial.

Ustadzah Levana menjelaskan bahwa moderasi beragama bukan berarti mengurangi nilai agama, melainkan menjalankan ajaran secara seimbang sesuai porsinya. Nilai-nilai agama mengajarkan sikap bertanggung jawab, tidak berlebihan, serta tetap menghormati sesama tanpa kehilangan prinsip keyakinan.

Di era digital, generasi muda perlu memiliki literasi digital dan literasi keagamaan agar mampu berpikir kritis dalam menyikapi berbagai informasi. Memperdalam pemahaman agama menjadi salah satu cara untuk memfilter konten yang beredar di dunia maya.

Pembahasan juga menyoroti pentingnya membangun sikap toleransi dalam kehidupan sehari-hari. Toleransi diwujudkan dengan saling menghargai perbedaan, memberikan ruang kepada setiap orang untuk menjalankan ajaran agamanya, serta menjaga hubungan sosial yang harmonis.

Selain itu, masyarakat diajak mengenali karakteristik paham ekstremisme agar tidak mudah terpengaruh. Ekstremisme muncul ketika seseorang menganggap hanya pandangannya yang benar dan berupaya menolak atau menghilangkan pihak yang berbeda.

Ustadzah Levana mengingatkan bahwa memberikan label ekstrem kepada seseorang tidak boleh dilakukan secara sembarangan. Jika menemukan indikasi yang mengarah pada paham ekstrem dan masih ragu, masyarakat dianjurkan berkonsultasi dengan lembaga yang berwenang, seperti Kementerian Agama atau Majelis Ulama Indonesia.

Melalui siaran ini, RRI Bogor mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk menjadi pengguna media sosial yang lebih bijak dengan menjadikan nilai-nilai agama sebagai pedoman. Kemampuan memilah informasi, menjaga toleransi, dan menghindari sikap ekstrem diharapkan dapat menciptakan ruang digital yang sehat, damai, dan saling menghormati.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....