Naskah Kuno Dinilai Jadi Kunci Mengungkap Peradaban Pakuan Pajajaran
- 27 Jun 2026 05:45 WIB
- Bogor
RRI.CO.ID, Bogor – Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Bogor menilai sumber-sumber tertulis memiliki peran penting dalam mengungkap sejarah Kerajaan Pakuan Pajajaran. Hal tersebut karena peninggalan artefak fisik yang berkaitan dengan Pakuan Pajajaran hingga kini masih sangat terbatas.
Ketua TACB Kota Bogor, Taufik Hasunna, mengatakan kondisi tersebut berbeda dengan wilayah di Jawa Tengah maupun Jawa Timur yang masih memiliki banyak tinggalan berupa candi dan artefak dari masa kerajaan.
"Kalau berkaitan dengan Pakuan Pajajaran, tinggalan artefaknya sangat minim. Namun naskah-naskah tua justru menyimpan informasi yang sangat luar biasa mengenai kehidupan masyarakat pada masa itu," ujar Taufik dalam Dialog Astacita Bogor Pagi edisi Jumat, 26 Juni 2026.
Ia menjelaskan berbagai naskah kuno menunjukkan masyarakat Pakuan Pajajaran sekitar 500 tahun lalu telah memiliki tingkat peradaban yang maju. Informasi mengenai teknologi, kebudayaan, etika, kehidupan kaum bujangga, hingga hubungan dengan dunia luar terdokumentasikan dalam berbagai sumber tertulis.
Menurutnya, masyarakat Pakuan Pajajaran bahkan telah mengenal ilmu navigasi, perkembangan tekstil, serta penggunaan bahasa asing dalam aktivitas sosial dan perdagangan. Fakta tersebut menunjukkan adanya kemajuan peradaban yang tidak sebanding dengan minimnya tinggalan artefak yang ditemukan saat ini.
"Terjadi kontradiksi antara sedikitnya artefak yang tersisa dengan isi naskah yang justru menggambarkan masyarakat Pajajaran telah memiliki peradaban yang maju," katanya.
Melalui kegiatan aktivasi Museum Pajajaran, TACB juga mengajak guru, pelajar, mahasiswa, dan masyarakat untuk mengembangkan budaya riset sejarah. Penelitian dinilai penting agar pemahaman terhadap sejarah tidak hanya bertumpu pada legenda dan tradisi lisan, tetapi juga didukung bukti ilmiah dari sumber-sumber tertulis.
Sebagai bagian dari upaya pelestarian naskah kuno, TACB bersama Bujangga Manik Society telah menghadirkan salinan Naskah Bujangga Manik yang ditulis ulang di atas daun lontar oleh tiga penyalin lontar. Proses penyalinan tersebut memakan waktu sekitar tiga tahun dan kini telah menjadi salah satu koleksi Museum Pajajaran.
Taufik berharap keberadaan naskah kuno sebagai koleksi museum dapat menjadi sarana edukasi bagi masyarakat sekaligus mendorong lahirnya penelitian baru mengenai sejarah dan peradaban Pakuan Pajajaran.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....