Aktivasi Museum Pajajaran Hidupkan Sejarah Bogor

  • 26 Jun 2026 14:10 WIB
  •  Bogor

RRI.CO.ID, Bogor – Museum Pajajaran didorong tidak hanya menjadi tempat penyimpanan benda-benda bersejarah, tetapi juga berkembang sebagai ruang budaya yang hidup, pusat literasi, serta destinasi wisata edukatif di Kota Bogor. Gagasan tersebut mengemuka dalam Dialog Asta Cita RRI Bogor, Jumat, 26 Juni 2026, di PRO 1 RRI Bogor yang menghadirkan Ketua Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Bogor, Taufik Hassunna, dan Muhamad Alnoza dari Bujangga Manik Society.

Dalam dialog tersebut, Taufik Hassunna menjelaskan bahwa aktivasi Museum Pajajaran merupakan upaya menghadirkan paradigma baru dalam pengelolaan museum. Menurutnya, museum tidak cukup hanya menyimpan koleksi sejarah, tetapi harus mampu menyampaikan narasi yang membangun kedekatan masyarakat dengan identitas Kota Bogor. "Museum harus menjadi ruang yang hidup, tempat masyarakat belajar, berdialog, dan memahami akar sejarahnya," ujarnya.

Ia menambahkan, citra museum yang selama ini identik dengan kesan kuno, sunyi, bahkan menyeramkan perlu diubah melalui penyajian yang lebih interaktif dan menarik. Dengan demikian, Museum Pajajaran diharapkan mampu menjadi destinasi wisata budaya yang menghadirkan pengalaman belajar sejarah secara menyenangkan, terutama bagi generasi muda.

Menurut Taufik, penguatan narasi sejarah tidak dapat dilepaskan dari keberadaan sumber-sumber tertulis, seperti prasasti, naskah kuno, dan hasil kajian akademik. Dokumen-dokumen tersebut menjadi fondasi dalam menjelaskan makna setiap koleksi sehingga museum tidak hanya menampilkan benda bersejarah, tetapi juga menyampaikan kisah yang melatarbelakanginya.

Sementara itu, Muhamad Alnoza dari Bujangga Manik Society menilai naskah kuno memiliki peran penting dalam merekonstruksi identitas Pajajaran yang kini tidak lagi terlihat secara fisik. Melalui kajian filologi, isi naskah dapat diterjemahkan menjadi narasi, visualisasi, hingga pengalaman interaktif yang membuat sejarah lebih mudah dipahami masyarakat lintas generasi.

Sebagai bagian dari upaya memperkuat literasi sejarah tersebut, Museum Pajajaran menggelar diskusi bertajuk "Membedah Kembali Tritangtu: Eksistensinya di Tatar Sunda, Lintas Teks dan Lintas Zaman" pada Jumat, 26 Juni 2026, di Museum Pajajaran. Diskusi tersebut menghadirkan Dr. Aditia Gunawan, filolog dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, yang akan mengulas konsep Tritangtu berdasarkan naskah-naskah Sunda Kuno serta relevansinya dalam kehidupan masyarakat masa kini.

Melalui rangkaian dialog dan diskusi tersebut, masyarakat diharapkan semakin mengenal warisan intelektual Tatar Sunda sekaligus melihat museum sebagai ruang yang dinamis untuk belajar sejarah, berdiskusi, dan memperkuat identitas budaya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....