Nilai Rupiah Melemah, Pedagang Tempe di Bogor Hadapi Tekanan

  • 09 Jun 2026 18:12 WIB
  •  Bogor
Poin Utama
  • Perumda Pasar Pakuan Jaya meningkatkan pengawasan terhadap peredaran komoditas tempe dan tahu di sejumlah pasar tradisional Kota Bogor.
  • Salah seorang pedagang tempe di Pasar Jambu Dua, Mardiana, mengaku kenaikan harga kedelai membuat pelaku usaha harus mencari cara agar usaha tetap berjalan.

RRI.CO.ID, Bogor – Perumda Pasar Pakuan Jaya meningkatkan pengawasan terhadap peredaran komoditas tempe dan tahu di sejumlah pasar tradisional Kota Bogor. Langkah tersebut dilakukan menyusul kenaikan harga kedelai yang dipengaruhi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang pada Selasa, 9 Juni 2026, berada di kisaran lebih dari Rp18.000 per dolar AS.

Pengawasan dilakukan untuk memastikan produk pangan yang beredar tetap memenuhi standar keamanan dan kualitas bagi masyarakat. Selain itu, petugas juga memantau dampak kenaikan harga bahan baku terhadap aktivitas perdagangan di tingkat pedagang.

Kepala Unit Pasar Jambu Dua, Iwan Arief Budiman, mengatakan pihaknya terus melakukan pemantauan terhadap komoditas yang terdampak kenaikan harga kedelai. Pengawasan dilakukan secara berkala untuk menjaga kepatuhan terhadap aturan pangan yang berlaku.

“Saat ini pengawasan masih berlangsung terutama mencegah adanya peredaran komoditas yang bisa menyalahi prosedur aturan pangan,” ujar Iwan Arief Budiman, Selasa 9 Juni 2026.

Ia menegaskan bahwa keamanan dan kelayakan pangan harus tetap menjadi prioritas meskipun pelaku usaha menghadapi tekanan akibat kenaikan biaya produksi. Menurutnya, perubahan harga bahan baku berpotensi memengaruhi pola perdagangan di pasar tradisional. Namun, pihak pengelola pasar berharap kondisi tersebut tidak berdampak pada kualitas produk yang diterima konsumen.

Salah seorang pedagang tempe di Pasar Jambu Dua, Mardiana, mengaku kenaikan harga kedelai membuat pelaku usaha harus mencari cara agar usaha tetap berjalan. Salah satu langkah yang dilakukan adalah menyesuaikan ukuran produk tanpa menaikkan harga secara signifikan.

“Saat ini situasi perdagangan sangat sulit untuk tempe karena bahan baku yang cenderung naik sehingga terpaksa mengecilkan ukuran tempe. Kami berharap situasi perdagangan bisa kembali normal dan ada kebijakan dari pemerintah untuk tidak menaikkan harga kedelai,” kata Mardiana.

Ia berharap kondisi pasar segera membaik sehingga pedagang dan konsumen tidak terus terbebani oleh tingginya harga bahan baku.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....