GPSN Dekatkan Golok ke Gen Z lewat Kampus dan Sekolah
- 06 Jun 2026 05:04 WIB
- Bogor
RRI.CO.ID, Bogor – Upaya pelestarian budaya di era digital membutuhkan pendekatan yang lebih dekat dengan generasi muda. Komunitas Pelestari Golok Pedang Sepuh Nusantara (GPSN) pun memilih strategi jemput bola dengan membawa edukasi tentang golok ke kampus, sekolah, pusat perbelanjaan, hingga lokasi wisata yang banyak dikunjungi anak muda.
Dalam Dialog Astacita Bogor Pagi edisi Kamis, 4 Juni 2026, Pembina Komunitas Pelestari Golok Pedang Sepuh Nusantara (GPSN), Gatut Susanta, mengatakan pelestarian budaya harus mengikuti pola kehidupan generasi muda saat ini. Menurutnya, mayoritas Gen Z lebih banyak menghabiskan waktu di dunia digital sehingga budaya perlu hadir di ruang yang dekat dengan keseharian mereka.
"Ya memang saat ini kan 60 persen pemilih ini adalah Gen Z. Dan dia rata-rata 8 jam menggunakan handphone," kata Gatut.
Untuk menjangkau kalangan muda, GPSN mengembangkan program Golok Goes to Campus dan Golok Goes to School. Selain itu, berbagai pameran golok juga diselenggarakan di pusat perbelanjaan dan kawasan wisata seperti mal dan destinasi budaya agar masyarakat dapat mengenal golok secara lebih dekat.
Menurutnya, pendekatan tersebut dilakukan karena minat masyarakat untuk datang ke kegiatan budaya masih terbatas. Oleh sebab itu, komunitas harus aktif mendatangi ruang-ruang yang menjadi tempat berkumpul anak muda.
"Kalau kita memperkenalkan golok di komunitas golok itu kan sama dengan khutbah agama di tempatnya. Tapi kalau kami justru menyasar orang yang tidak tahu golok, masyarakat yang tidak mengenal golok supaya mengenal golok," ujarnya.
Selain memperkenalkan golok kepada masyarakat, GPSN juga terus memperjuangkan pengakuan golok sebagai warisan budaya dunia melalui program Golok Road to UNESCO. Upaya tersebut dilakukan dengan memperkuat literasi, kajian sejarah, serta dokumentasi mengenai golok sebagai bagian dari identitas budaya Nusantara.
Gatut menjelaskan, salah satu dasar perjuangan tersebut adalah keberadaan golok yang telah tercatat dalam naskah kuno Sanghyang Siksa Kandang Karesian. Karena itu, GPSN terus mengumpulkan data dan literasi untuk memperkuat proses pengajuan.
"Golok itu lagi diperjuangkan untuk catatan dunia. Jadi tidak layak kalau golok itu digunakan untuk tawuran," ucapnya.
Untuk mendukung upaya tersebut, GPSN telah menerbitkan sejumlah buku tentang sejarah dan filosofi golok serta aktif menggelar lomba seni kreasi pencak silat golok yang melibatkan generasi muda. Menurutnya, budaya akan tetap lestari apabila diperkenalkan dengan cara yang menarik dan sesuai dengan perkembangan zaman.
Ia juga mengapresiasi langkah Pemerintah Kota Bogor dalam mengembangkan Museum Pajajaran sebagai ruang pelestarian sejarah dan budaya. Menurutnya, museum dapat menjadi sarana edukasi yang efektif apabila dibarengi dengan kegiatan literasi dan penugasan karya tulis bagi para pelajar.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....