Perempuan dan Generasi Muda Kunci Pelestarian Budaya di Era Digital

  • 06 Jun 2026 03:03 WIB
  •  Bogor

RRI.CO.ID, Bogor – Perempuan dan generasi muda dinilai memiliki peran strategis dalam menjaga keberlanjutan budaya di tengah perkembangan teknologi dan arus globalisasi. Pelestarian budaya pun perlu dilakukan dengan pendekatan yang relevan agar tetap dekat dengan kehidupan generasi masa kini.

Dalam Dialog Astacita Bogor Pagi edisi Kamis, 4 Juni 2026, Ketua PILAR Foundation, Shaliha Az Zahra, mengatakan perempuan bukan hanya pelengkap dalam pembangunan, tetapi juga menjadi penopang utama dalam mewariskan nilai-nilai budaya kepada generasi berikutnya. PILAR sendiri merupakan akronim dari Power in Women's Leadership, Advocacy, and Innovation.

Menurut Shaliha, budaya tidak hanya dimaknai sebagai kesenian seperti tarian atau pertunjukan tradisional, tetapi juga mencakup nilai-nilai yang hidup dan berkembang di tengah masyarakat. Karena itu, pelestarian budaya harus dimulai dari lingkungan terdekat, terutama keluarga dan komunitas.

Ia menjelaskan, berbagai kegiatan yang dilakukan PILAR banyak menyasar masyarakat di tingkat akar rumput melalui kunjungan ke sejumlah kecamatan. Dari kegiatan tersebut, pihaknya melihat perempuan memiliki posisi penting sebagai garda terdepan dalam menanamkan dan mewariskan nilai-nilai luhur kepada generasi muda.

"Perempuan adalah garda terdepan untuk mewariskan nilai-nilai luhur mulai dari rumah sampai ke lingkungan sekitar," kata Shaliha.

Menurutnya, tantangan pelestarian budaya saat ini semakin besar karena generasi muda hidup di tengah era digital yang membuat mereka mudah terpapar berbagai budaya dari seluruh dunia. Oleh karena itu, pelestarian budaya harus dilakukan dengan cara yang sesuai dengan karakter generasi muda, khususnya Gen Z.

Shaliha mengatakan PILAR berupaya menghadirkan kegiatan yang memadukan ruang ekspresi anak muda dengan unsur budaya lokal. Berbagai kegiatan digelar di ruang publik dengan melibatkan organisasi kepemudaan dan komunitas, sekaligus menghadirkan seni serta budaya Sunda sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya.

Selain melalui kegiatan tatap muka, PILAR juga memanfaatkan media sosial sebagai sarana memperkenalkan budaya kepada khalayak yang lebih luas. Menurutnya, platform digital memungkinkan budaya lokal dikenal tidak hanya oleh masyarakat Indonesia, tetapi juga masyarakat internasional.

"Media sosial menjadi cara paling mudah untuk memperkenalkan budaya karena jangkauannya sangat luas dan memang menjadi ruang yang dekat dengan generasi muda," ujarnya.

Meski menghadapi tantangan modernisasi dan digitalisasi, Shaliha optimistis generasi muda tetap memiliki kepedulian terhadap budaya. Ia mencontohkan munculnya berbagai kreator muda yang menggabungkan unsur budaya tradisional, seperti musik gamelan, ke dalam karya-karya modern sehingga lebih mudah diterima oleh masyarakat saat ini.

Ia menegaskan perempuan sebagai madrasah pertama dalam keluarga memiliki tanggung jawab besar dalam menanamkan nilai-nilai budaya kepada generasi penerus. Sementara itu, pemuda menjadi motor penggerak yang memastikan budaya dan warisan bangsa tetap hidup serta berkembang secara berkelanjutan.

Pada momentum Hari Jadi Bogor ke-544, Shaliha mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama menjaga budaya yang telah diwariskan para pendahulu agar tetap lestari dan dapat diteruskan kepada generasi mendatang.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....