Haji Mabrur Tercermin dari Akhlak Mulia setelah Ibadah Haji

  • 06 Jun 2026 09:19 WIB
  •  Bogor

‎RRI.CO.ID, Bogor - Ibadah haji tidak hanya dimaknai sebagai perjalanan fisik menuju Tanah Suci, tetapi juga menjadi proses pembentukan karakter dan penyempurnaan kualitas keimanan seorang Muslim. Hal itu disampaikan Prof. Didin S. Buchori dalam program Mutiara Pagi RRI Berjaringan Korwil XII Bandung, Bogor, dan Cirebon yang disiarkan pada Jumat, 5 Mei 2026.

Menurut Prof. Didin, keberhasilan ibadah haji dapat dilihat dari perubahan perilaku dan akhlak seseorang setelah kembali ke tanah air. Ia menegaskan, salah satu indikator utama haji mabrur adalah lahirnya pribadi yang lebih baik dibandingkan sebelum menunaikan ibadah haji.

“Syiar terpenting dari haji mabrur adalah ketika seseorang menunjukkan perilaku yang lebih baik dan akhlak yang lebih mulia setelah berhaji,” ujarnya. Ia menambahkan, nilai-nilai yang diperoleh selama menjalankan rangkaian ibadah haji harus tercermin dalam kehidupan sehari-hari melalui sikap santun, jujur, dan penuh kepedulian terhadap sesama.

Lebih lanjut, Prof. Didin menjelaskan bahwa ibadah haji memiliki kedudukan istimewa karena menjadi penyempurna berbagai ibadah yang telah dijalankan sebelumnya. Haji menghimpun berbagai bentuk penghambaan kepada Allah SWT, mulai dari ibadah fisik, spiritual, hingga pengorbanan materi.

Karena itu, haji tidak sekadar menjadi ritual tahunan, melainkan momentum evaluasi diri untuk meningkatkan kualitas keislaman secara menyeluruh. Menurutnya, setiap rangkaian ibadah haji mengandung nilai pendidikan spiritual yang mendalam bagi setiap Muslim.

Salah satu filosofi penting dalam ibadah haji, kata Prof. Didin, tercermin pada penggunaan pakaian ihram. Ia menyebut ihram sebagai simbol pakaian takwa yang mengajarkan kesederhanaan, kesetaraan, dan kepasrahan di hadapan Allah SWT.

“Hakikat ihram bukan hanya mengenakan dua lembar kain putih, tetapi bagaimana seseorang membangun sikap ketakwaan dalam seluruh aspek kehidupannya,” jelasnya. Melalui ihram, setiap jamaah diingatkan bahwa kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh status sosial maupun kekayaan, melainkan oleh tingkat ketakwaannya.

Selain ihram, prosesi wukuf di Arafah juga memiliki makna mendalam dalam perjalanan spiritual seorang Muslim. Prof. Didin menerangkan bahwa wukuf merupakan momentum perenungan diri yang menggambarkan persiapan manusia menghadapi kehidupan setelah kematian.

Dalam suasana yang penuh kekhusyukan, jamaah diajak mengevaluasi perjalanan hidup sekaligus memperbanyak doa dan istighfar sebagai bekal menuju akhirat. Menurutnya, esensi wukuf mengajarkan pentingnya mempersiapkan bekal terbaik sebelum kembali kepada Sang Pencipta.

Bekal tersebut bukan berupa harta maupun kedudukan, melainkan amal saleh, ketulusan ibadah, serta komitmen untuk terus memperbaiki diri. Oleh karena itu, setiap rangkaian ibadah haji sejatinya menjadi sarana pendidikan spiritual yang membentuk kesadaran akan tujuan akhir kehidupan manusia.

Menutup siaran Mutiara Pagi RRI Berjaringan Korwil Bandung, Bogor, dan Cirebon, Prof. Didin S. Buchari mengajak umat Islam menjadikan nilai-nilai haji sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Ia menegaskan bahwa kemabruran haji tidak berhenti saat rangkaian ibadah selesai, melainkan terus terjaga melalui akhlak yang semakin mulia, kepedulian sosial yang meningkat, serta ketakwaan yang semakin kuat kepada Allah SWT.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....