Warga dan Pemerintah Perkuat Pengawasan Infrastruktur di Tanah Baru

  • 22 Mei 2026 13:27 WIB
  •  Bogor

RRI.CO.ID, Bogor – Kondisi infrastruktur jalan dan turap di sejumlah wilayah Kota Bogor masih menjadi perhatian masyarakat, terutama di kawasan dengan kontur tanah yang curam dan rawan longsor. Peran aktif warga bersama pemerintah dinilai penting untuk menjaga keamanan lingkungan serta meminimalkan risiko bencana.

Dalam Dialog Bogor Pagi Ini edisi Kamis, 21 Mei 2026, Ketua RW 13 Kelurahan Tanah Baru, Riedos, mengatakan aduan masyarakat yang paling sering diterimanya berkaitan dengan kerusakan jalan lingkungan. Menurutnya, kondisi geografis wilayah yang banyak memiliki area miring dan jurang membuat potensi longsor cukup tinggi.

“Kalau yang sering terjadi aduan masyarakat kepada saya itu rata-rata jalan ya, karena tingkat kontur tanah di wilayah saya banyak yang miring dan ada jurang,” ujar Riedos.

Ia mencontohkan longsor yang sempat terjadi di RT 7 RW 13 bukan disebabkan banjir, melainkan lemahnya konstruksi turap buatan pengembang. Kondisi tersebut membuat warga harus bergerak cepat agar longsoran tidak semakin meluas.

“Kemarin sempat terjadi longsor di RT 7 RW 13, bukan karena banjir, tapi karena daya tahan konstruksi buatan pengembang yang memang kurang baik,” katanya.

Menurutnya, warga langsung melakukan gotong royong dengan membuat turap sementara menggunakan bambu sambil menunggu penanganan pemerintah. Ia juga mengaku telah berkoordinasi dengan Dinas Perumahan dan Permukiman (Perkim) terkait pembangunan turap permanen.

“Akhirnya saya minta warga gotong royong dulu supaya longsoran bisa tertahan. Alhamdulillah tahun ini sudah dianggarkan pembangunan turap permanen,” ucapnya.

Riedos menilai koordinasi antara warga dan pemerintah di wilayahnya berjalan cukup baik melalui grup komunikasi RT dan RW. Dengan sistem tersebut, laporan masyarakat bisa segera diteruskan kepada pihak terkait seperti Dinas PUPR maupun pemerintah kelurahan.

“Jadi warga langsung melapor ke grup dan saya bisa langsung menyampaikan ke pihak PUPR ataupun Bu Esti. Respon dari PUPR juga sangat cepat,” ujarnya.

Ia juga menegaskan masyarakat ikut berperan menjaga kualitas infrastruktur di lingkungannya. Bahkan, warga pernah melakukan perbaikan jalan secara mandiri menggunakan dana iuran bersama karena memahami pemerintah memiliki banyak prioritas pembangunan.

“Kami juga pernah gotong royong menambal hampir 20 lubang jalan menggunakan semen dan koral dari iuran warga,” katanya.

Selain persoalan infrastruktur, Riedos menilai banjir juga dipengaruhi perilaku masyarakat yang masih membangun di bantaran sungai maupun mempersempit aliran air. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi salah satu penyebab berkurangnya daya tampung sungai saat hujan deras.

“Dulu waktu saya kecil beberapa area masih berupa sungai, sekarang sudah menjadi bangunan dan toko. Itu juga menjadi salah satu penyebab banjir,” ucapnya.

Ia berharap masyarakat semakin sadar menjaga lingkungan dan infrastruktur di wilayah masing-masing. Menurutnya, menjaga alam merupakan tanggung jawab bersama demi mencegah bencana di masa mendatang.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....