Rumah Bacaan Anjangsana, Ruang Tumbuhkan Budaya Literasi di Bogor
- 14 Apr 2026 13:28 WIB
- Bogor
RRI.CO.ID, Bogor – Minat baca masyarakat di tengah perkembangan teknologi digital masih menjadi tantangan yang perlu mendapat perhatian bersama. Akses informasi yang cepat melalui gawai kerap tidak diimbangi dengan kebiasaan membaca secara mendalam. Kondisi ini mendorong hadirnya berbagai inisiatif untuk menghidupkan kembali budaya literasi.
Salah satu upaya tersebut dilakukan melalui Rumah Bacaan Anjangsana di Bogor. Tempat ini tidak hanya menyediakan buku, tetapi juga menjadi ruang belajar, interaksi, dan kolaborasi bagi masyarakat dari berbagai kalangan. Kehadirannya diharapkan mampu menjadi alternatif ruang edukatif yang nyaman dan inklusif.
Pengelola Rumah Bacaan Anjangsana, Ryan Rinaldy, menjelaskan bahwa ide pendirian tempat ini berawal dari pengalaman pribadi saat berkunjung ke Hanoi, Vietnam. Ia terinspirasi dari konsep sebuah kafe yang memanfaatkan koleksi pribadi sebagai bagian dari ruang publik.
“Awalnya kami terinspirasi dari sebuah kafe di Hanoi yang memberikan kehidupan kedua pada barang-barang koleksinya. Dari situ kami teringat rumah keluarga yang sudah lama tidak ditempati dan koleksi buku yang jarang dibaca,” ujarnya dalam Bogor Pagi ini edisi Selasa, 14 April 2026.
“Sepulang dari perjalanan itu, kami memutuskan untuk mengubah rumah tersebut menjadi rumah baca. Harapannya, buku-buku yang kami miliki bisa dimanfaatkan lebih luas oleh masyarakat,” tambahnya.
Rumah Bacaan Anjangsana resmi dibuka pada Oktober 2025 dengan koleksi awal sekitar 1.300 buku. Seiring waktu, jumlah koleksi terus bertambah hingga lebih dari 1.500 buku, sebagian besar berasal dari donasi pengunjung. Koleksi yang tersedia mencakup buku anak, komik, novel, hingga buku nonfiksi seperti pengembangan diri dan sejarah.
Ryan mengatakan, tingginya harga buku menjadi salah satu alasan utama dibukanya rumah baca ini. Ia ingin memberikan akses literasi yang lebih merata bagi masyarakat, terutama bagi mereka yang memiliki keterbatasan untuk membeli buku.
“Kami melihat tidak semua orang punya akses untuk membeli buku karena harganya cukup mahal. Karena itu, kami mencoba berbagi koleksi agar bisa dimanfaatkan bersama. Harapannya, dari akses yang terbuka ini, minat baca masyarakat bisa tumbuh secara perlahan,” lanjut Ryan.
Dalam operasionalnya, Rumah Bacaan Anjangsana terbuka untuk semua kalangan, namun tetap menekankan peran keluarga dalam membangun kebiasaan membaca. Orang tua diharapkan dapat mengenalkan buku kepada anak sejak dini melalui pengalaman langsung di ruang baca.
Selain menyediakan buku, berbagai kegiatan juga rutin digelar untuk menarik minat pengunjung. Mulai dari diskusi buku, workshop jurnal, hingga pelatihan menulis cerita anak dan skenario film yang melibatkan komunitas literasi di Bogor.
“Di era sekarang, kolaborasi menjadi kunci untuk menarik minat masyarakat. Kegiatan yang santai dan interaktif bisa menjadi pintu masuk untuk menumbuhkan ketertarikan membaca. Melalui kegiatan ini, kami berharap pengunjung tidak hanya datang sekali, tetapi kembali lagi untuk membaca dan belajar,” jelas Ryan.
Dalam lima bulan terakhir, respons masyarakat terhadap keberadaan rumah baca ini terbilang positif. Pengunjung tidak hanya berasal dari Bogor, tetapi juga dari berbagai daerah seperti Jakarta, Bekasi, Tangerang, Bandung, hingga Sukabumi.
Ke depan, pengelola berharap Rumah Bacaan Anjangsana dapat terus berkembang dan menjadi bagian dari ekosistem literasi di daerah. Kolaborasi dengan pemerintah dan komunitas juga diharapkan dapat memperkuat gerakan literasi secara berkelanjutan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....