Lonjakan Inflasi Bogor Dipicu Tarif Listrik dan Momentum Lebaran

  • 30 Mar 2026 15:51 WIB
  •  Bogor

RRI.CO.ID, Bogor – Inflasi di Kota Bogor pada Februari 2026 tercatat mencapai 4,8 persen secara tahunan. Angka ini menunjukkan kenaikan signifikan dibandingkan periode sebelumnya dan menjadi perhatian pasca momen Ramadan serta Idulfitri. Kondisi ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik dari sisi permintaan maupun pasokan.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Bogor, Gandari Adianti, menjelaskan bahwa tingginya inflasi tidak lepas dari faktor pembanding pada tahun sebelumnya. Pada Februari 2025, terdapat kebijakan diskon tarif listrik sebesar 50 persen yang membuat harga saat itu lebih rendah. Ketika tarif kembali normal di tahun 2026, terjadi lonjakan yang cukup tajam.

“Kalau kita bandingkan secara tahunan, angka inflasi terlihat tinggi karena ada efek basis dari tahun sebelumnya. Tarif listrik yang kembali normal menjadi salah satu pemicu utama kenaikan ini. Jadi bukan semata-mata karena harga sekarang tinggi, tetapi karena ada perubahan signifikan dibandingkan tahun lalu.” ujarnya dalam dialog Bogor Pagi Ini edisi Senin, 30 Maret 2026.

Selain itu, peningkatan konsumsi masyarakat selama Ramadan dan menjelang Lebaran turut mendorong inflasi. Kebutuhan bahan pokok seperti beras meningkat karena masyarakat mempersiapkan kebutuhan hari raya. Aktivitas konsumsi yang tinggi ini menjadi pola musiman yang hampir selalu terjadi setiap tahun.

“Permintaan masyarakat meningkat cukup tajam saat Ramadan dan Lebaran. Hal ini terutama terlihat pada komoditas pangan yang banyak dikonsumsi saat hari raya. Kondisi ini memang menjadi pola tahunan yang berdampak pada pergerakan harga di pasar.” katanya.

Dari sisi pasokan, distribusi barang juga sempat mengalami kendala akibat arus mudik. Kemacetan dan hambatan logistik menyebabkan pasokan beberapa komoditas terganggu. Akibatnya, harga di sejumlah pasar mengalami kenaikan.

Namun demikian, BPS mencatat bahwa tidak semua komoditas mengalami kenaikan harga. Beberapa di antaranya justru mengalami penurunan seiring berkurangnya konsumsi pasca Lebaran. Hal ini menunjukkan adanya dinamika harga yang bervariasi di masyarakat.

“Kami melihat ada komoditas yang naik, tetapi ada juga yang turun. Bahkan harga emas mengalami penurunan yang dapat menjadi penyeimbang inflasi. Kemungkinan inflasi di bulan Maret tidak akan setinggi Februari, namun kita masih menunggu rilis resmi.” ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....