Cap Go Meh dan Ramadan di Kota Bogor Perlihatkan Akulturasi dan Toleransi Umat

  • 03 Mar 2026 22:33 WIB
  •  Bogor

RRI.CO.ID, Bogor - Semarak acara puncak Bogor Street Festival Cap Go Meh 2026 yang digelar di Jalan Surya Kencana Kota Bogor, terasa begitu hangat meski hujan turun. Kehangatan itu terasa sejak di pelataran Vihara Dhanagun, hingga sepanjang jalan Surya Kencana, dengan ornamen khas merah dipadukan dengan suasana Ramadan.

Di sudut bazar rakyat, pedagang menata barang dagangan dengan senyum yang tak dibuat-buat. Percakapan mengalir tanpa sekat, dari soal harga hingga cerita keluarga, seolah perayaan ini bukan sekadar agenda tahunan, melainkan ruang pulang bagi keberagaman. Josepin, warga Kemang Residence, memandang momen ini sebagai potret akulturasi yang hidup.

“Event kali ini sangat baik untuk akulturasi budaya, karena saat momentum puasa Ramadan umat Katolik juga melakukan puasa seperti umat muslim,” ujarnya, Selasa, 3 Maret 2026.

Bagi Wiwi Oktavia seorang pengunjung lainnya, mengatakan bahwa bazar di acara Cap Go Meh ini bukan sekadar tempat transaksi, melainkan ruang bertumbuh.

“Event kali ini sangat baik untuk menjadi salah satu perekat bangsa dan sumber kemakmuran, karena bazar dapat mempertemukan UMKM untuk tumbuh dan berkembang,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua panitia CGM 2026, Arifin Himawan, menyebut kekuatan festival ini terletak pada partisipasi warganya yang tulus. Ia melihat bazar rakyat dan kolaborasi lintas komunitas sebagai cermin DNA toleransi Kota Bogor yang dirawat dari generasi ke generasi.

Selasa 3 Maret 2026, masarakat di area vihara sebelum larut dalam rangkaian seni dan budaya yang disuguhkan. Di sanalah Ramadan dan Cap Go Meh tak lagi berdiri sebagai dua perayaan berbeda, melainkan satu napas kebersamaan yang saling menguatkan.

Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk terus membuka ruang inklusif bagi seluruh umat. Baginya, festival lintas budaya adalah cara merawat empati dan memastikan kota ini tumbuh bukan hanya dalam pembangunan fisik, tetapi juga dalam kedewasaan sosial.

Dan ketika malam kian larut, lampion-lampion itu tetap menyala, seolah menolak padam oleh waktu. Dari pelataran vihara hingga meja-meja bazar, Bogor kembali membisikkan pesan sederhana namun kuat: bahwa perbedaan bukan alasan untuk menjauh, melainkan alasan untuk saling mendekat, merawat cahaya yang sama di bawah langit yang sama.

Rekomendasi Berita