Strategi UMKM Manfaatkan Peluang dan Hadapi Tantangan Usaha saat Ramadan
- 27 Feb 2026 06:38 WIB
- Bogor
RRI.CO.ID, Bogor – Ramadan menjadi momentum strategis bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) karena mendorong peningkatan aktivitas ekonomi secara signifikan. Permintaan makanan berbuka, hampers, hingga busana muslim meningkat tajam setiap tahun. Namun, di balik peluang tersebut, terdapat tantangan pengelolaan usaha yang tidak ringan.
Prof. Dr. Murniati Mukhlisin, Guru Besar Akutansi Syariah, Universitas Tazkia Bogor, mengatakan lonjakan permintaan saat Ramadan seharusnya sudah diantisipasi sejak jauh hari. Menurutnya, pola konsumsi masyarakat pada bulan puasa bersifat musiman dan dapat diprediksi.
“Ramadan itu seasonal demand, jadi seharusnya dua bulan sebelumnya UMKM sudah menyiapkan kapasitas produksi dan stoknya. Kalau tidak siap, ketika pesanan melonjak justru kewalahan dan kualitas bisa menurun,” ujarnya dalam dialog RRI Bogor, Kamis, 26 Februari 2026.
Ia menjelaskan, sebagian besar UMKM di Bogor masih berada pada skala mikro seperti warung sembako, pedagang kaki lima, dan toko kelontong. Kelompok ini rentan menerima pesanan besar tanpa perhitungan matang sehingga berdampak pada pelayanan dan mutu produk.
“Biasanya sanggup 100, lalu diminta 1.000 tetap disanggupi tanpa hitung kapasitas. Akhirnya kualitas dipertanyakan dan konsumen bisa kecewa,” katanya.
Selain kesiapan produksi, pengelolaan keuangan juga menjadi tantangan utama. Banyak pengusaha UMKM belum memisahkan keuangan usaha dengan keuangan pribadi sehingga sulit menghitung keuntungan bersih secara akurat.
“Keuntungan itu harus dihitung secara net, termasuk biaya tenaga, waktu, dan keahlian. Jangan sampai merasa untung besar, padahal sebenarnya belum memperhitungkan semua biaya,” ucap Prof. Muniarti.
Ia menyarankan UMKM memanfaatkan aplikasi pencatatan keuangan gratis dari Bank Indonesia, yakni SIAPIK. Dengan pencatatan rapi, UMKM dapat lebih mudah mengakses pembiayaan perbankan dan meningkatkan skala usahanya.
Dalam perspektif syariah, ia menekankan pentingnya menjaga etika bisnis selama Ramadan. Prinsip usaha harus menghindari praktik ribawi, gharar atau ketidakjelasan, maisir atau spekulasi, serta tindakan zalim dan penggunaan bahan haram.
“Jangan menaikkan harga secara tidak wajar, jangan menyembunyikan kualitas barang, dan jangan menzalimi pekerja. Kalau usaha dijalankan sesuai prinsip syariah, insya Allah bukan hanya untung tapi juga berkah,” tuturnya.
Ia menambahkan, strategi pasca-Ramadan juga perlu disiapkan sejak awal agar omzet tidak turun drastis. Evaluasi produk terlaris, kemasan, promosi digital, serta sertifikasi halal menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan usaha.
“Pelajari perilaku konsumen selama Ramadan dan sesudahnya, lalu sesuaikan produk dengan kebutuhan pasar. Digital marketing juga harus diperkuat agar UMKM tetap stabil setelah Ramadan,” katanya.
Dengan perencanaan matang, pengelolaan keuangan yang disiplin, serta komitmen pada etika usaha, UMKM di Bogor diharapkan mampu memanfaatkan momentum Ramadan secara optimal. Tidak hanya meraih peningkatan omzet sementara, tetapi juga membangun fondasi usaha yang berkelanjutan sepanjang tahun.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....