Cuaca Ekstrem Bogor Ancam Ketahanan Rumah Warga

  • 11 Feb 2026 08:03 WIB
  •  Bogor

RRI.CO.ID, Bogor – Cuaca ekstrem yang belakangan melanda Kota Bogor berdampak langsung pada keselamatan permukiman warga. Salah satu dampak yang sering terjadi adalah atap rumah ambruk akibat hujan lebat disertai angin kencang.

Kepala pusat studi bencana, dosen IPB yang juga sebagai guru besar IPB, Prof. Dr. Ir. Bambang Hero Saharjo, mengatakan pola cuaca di Bogor kini semakin sulit diprediksi. Curah hujan bisa terjadi dengan intensitas tinggi, durasi singkat maupun panjang, bahkan berlangsung tanpa henti dan disertai angin kencang.

“Pola cuaca ekstrem sekarang berbeda dengan sebelumnya dan sulit diperkirakan kapan berhentinya. Kondisi ini tentu berdampak pada lingkungan, terutama rumah warga di wilayah rawan bencana,” ujar Prof. Bambang dalam dialog Bogor Pagi Ini edisi Selasa, 10 Februari 2026.

Ia menjelaskan, wilayah lereng, bantaran sungai, serta kawasan dengan konstruksi bangunan yang tidak adaptif menjadi lokasi paling rentan terdampak. Bangunan lama dengan material atap yang sudah rapuh dinilai tidak lagi mampu menghadapi tekanan cuaca ekstrem saat ini.

“Atap ambruk tidak bisa lagi dianggap kejadian biasa, karena risikonya sudah masuk kategori bencana. Material yang berkarat dan konstruksi lama membuat bangunan sangat rentan saat hujan deras dan angin kencang,” katanya.

Prof. Bambang menilai, kejadian atap ambruk seharusnya masuk dalam perencanaan mitigasi bencana daerah. Dengan demikian, pemerintah daerah dapat lebih aktif melakukan sosialisasi, peringatan dini, hingga penataan kawasan permukiman yang aman bagi masyarakat.

“Kalau sudah dikategorikan sebagai risiko bencana, maka mitigasinya harus direncanakan sejak awal. Pemerintah daerah perlu mengingatkan warga dan mengambil langkah pencegahan sebelum kejadian berulang,” ucapnya.

Terkait wacana gentengisasi, Prof. Bambang menyebut langkah tersebut sebagai bentuk mitigasi struktural yang penting. Genteng dinilai lebih mampu menahan angin kencang, mengurangi risiko benda jatuh, serta meminimalkan kebisingan dan panas di dalam rumah.

“Genteng memiliki bobot dan struktur yang lebih aman dibandingkan seng yang mudah terangkat angin. Selain itu, genteng juga mengurangi kebisingan dan panas berlebih di dalam rumah,” ujarnya.

Namun demikian, ia menegaskan gentengisasi tidak bisa menjadi satu-satunya solusi. Pendekatan mitigasi harus dilakukan secara menyeluruh, termasuk penataan ruang yang tegas dan memperhatikan dampak perubahan iklim.

Menurutnya, ketidaktegasan tata ruang dan alih fungsi lahan justru memperparah risiko bencana hidrometeorologi di Bogor. Dominasi permukaan kedap air seperti aspal dan beton juga mengurangi daya serap air dan berpotensi menimbulkan persoalan baru di masa depan.

Ia pun mengingatkan pemerintah daerah dan masyarakat agar lebih siap menghadapi cuaca ekstrem ke depan. Langkah cepat dan signifikan dinilai penting agar keselamatan warga tetap terjaga dan dampak bencana dapat diminimalkan.

Dalam Bincang Pagi di Pro 1 RRI Bogor tersebut, selain Prof. Bambang, hadir juga ahli konstruksi, Sony Sutarsa, S.T. Ia menyoroti banyaknya bangunan rumah warga yang konstruksinya masih belum sesuai standar kelayakan bangunan dan keselamatan bagi penghuninya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....