Swasembada Beras Dicapai, Ancaman Hama Mengintai Produksi

  • 25 Jan 2026 14:16 WIB
  •  Bogor

RRI.CO.ID, Bogor: Indonesia patut berbangga atas capaian swasembada beras yang berhasil diraih. Namun keberhasilan ini belum sepenuhnya aman. Perubahan iklim dengan pola hujan yang lebih sering, suhu yang hangat, serta kelembapan tinggi justru menciptakan kondisi ideal bagi berkembangnya wereng batang cokelat dan virus kerdil padi. Dua ancaman ini berpotensi menurunkan produksi bahkan memicu gagal panen jika tidak diantisipasi secara serius sejak dini.

Peringatan tersebut mengemuka dalam Webinar Dokter Tanaman Series bertajuk “Waspada! Antisipasi Virus Kerdil Padi” yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Proteksi Tanaman (HIMASITA) IPB pada hari Minggu 25 Januari 2026. Kegiatan ini diikuti ratusan peserta dari berbagai latar belakang, mulai dari petani, penyuluh, mahasiswa, dosen, hingga peneliti dari berbagai daerah sentra produksi padi di Indonesia, menunjukkan tingginya kepedulian terhadap isu perlindungan tanaman.

Berbagai laporan lapangan yang disampaikan dalam forum tersebut mengungkap kemunculan kembali wereng batang cokelat dan gejala penyakit kerdil di sejumlah wilayah seperti Lumajang, Subang, Tulungagung, Sragen, hingga Padang Pariaman. Kondisi ini menjadi sinyal kuat bahwa kewaspadaan tidak boleh menurun meskipun swasembada telah tercapai, karena ancaman organisme pengganggu tanaman terus bergerak dinamis mengikuti perubahan iklim.

Situasi tanaman padi yang mengalami gejala serangan virus kerdil di Lamongan

Foto: Said A

Praktisi Pengendalian Hama Terpadu (PHT) senior, Khamim Ashari, menegaskan bahwa penyebaran virus kerdil dapat berlangsung cepat apabila pengelolaan di lapangan tidak dilakukan secara kolektif. Menurutnya, keberhasilan pengendalian tidak bisa dicapai secara individual, melainkan harus melalui gerakan bersama dalam satu hamparan, dengan pendekatan pencegahan atau pre-emtive sebagai strategi utama.

Pengendalian sejak perencanaan tanam menjadi kunci penting, mulai dari tanam serempak, penggunaan varietas toleran, pemupukan seimbang, hingga pemanfaatan musuh alami. Pendekatan ini tidak hanya menekan risiko serangan wereng dan virus kerdil, tetapi juga menjaga keberlanjutan ekosistem pertanian agar tetap seimbang dan produktif dalam jangka panjang.

Penerapan pengelolaan lingkungan sawah dengan penanaman refugia untuk memberikan perlindungan tanaman padi dari serangan hama penyakit

Foto: Said A

Dari sisi akademik, pandangan serupa juga disampaikan oleh Prof. Dr. Ir. Widodo dari Institut Pertanian Bogor. Ia menekankan bahwa persoalan hama dan penyakit tanaman tidak mengenal batas administratif wilayah, sehingga pengendalian hanya akan efektif jika dilakukan secara terkoordinasi lintas desa dan daerah. Tanaman yang sehat, menurutnya, lahir dari sistem budidaya yang terkelola baik, tanah yang subur, nutrisi seimbang, serta lingkungan yang mendukung.

Diskusi ini mengerucut pada satu kesimpulan penting: swasembada beras tidak cukup dijaga hanya dengan teknologi budidaya, tetapi juga membutuhkan penguatan kelembagaan petani, kebijakan yang berpihak, serta kolaborasi antara petani, penyuluh, akademisi, dan pemerintah. Dengan pendekatan kolektif dan kewaspadaan dini, swasembada beras tidak hanya menjadi capaian sesaat, tetapi fondasi ketahanan pangan nasional yang berkelanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....