IDOLA: Menguatkan Peran Ayah Melalui Komunikasi
- 25 Jan 2026 14:15 WIB
- Bogor
RRI.CO.ID, Bogor : Narasumber dalam program Bogor Siang Ini, Minggu,25 Januari 2026 untuk segmen IDOLA (Indonesia Layak Anak), Aldilah Raman, S.H., Duta KPAID Ayah Inspiratif, mengisahkan alasan awal yang mendorongnya mengikuti ajang Duta KPAID. Ia menuturkan bahwa keputusan itu lahir dari keinginannya memahami lebih dalam persoalan anak dan keluarga. Melihat banyak kasus kerentanan anak di lingkungan sekitarnya, ia merasa perlu mengambil peran lebih luas dari sekadar peran ayah di rumah. Ajang tersebut membuka pintu bagi kesadaran baru bahwa figur ayah memiliki pengaruh besar dalam menciptakan lingkungan tumbuh kembang yang aman.
Dalam wawancara bersama RRI, Aldilah menekankan bahwa aset emosional paling penting bagi seorang ayah adalah kemampuan berkomunikasi. Menurutnya, komunikasi yang baik adalah fondasi dari segala bentuk pengasuhan,mulai dari membaca kebutuhan anak, merespons perubahan perilaku, hingga memahami emosi yang tidak diucapkan. “Banyak masalah dalam keluarga terjadi bukan karena tidak sayang, tapi karena tidak saling bicara,” ujarnya. Komunikasi yang hangat, terbuka, dan konsisten menjadi modal utama yang ia jaga dalam membesarkan anak-anaknya.
Ia menegaskan bahwa ayah modern harus hadir bukan hanya secara fisik, tetapi juga dalam percakapan sehari-hari. Ayah perlu menjadi tempat aman bagi anak bercerita, bertanya, hingga mengungkapkan kegelisahan. Keteladanan, kata Aldilah, justru dibentuk dari bagaimana ayah berbicara, meredakan konflik, dan mengambil keputusan dengan tenang. “Anak belajar dari cara ayah berkomunikasi. Dari situ mereka membentuk karakter,” katanya.
Pembahasan kemudian mengalir pada konteks lebih luas, yakni Indonesia Layak Anak dan program Ruang Aman Sejiwa. Menurut Aldilah, Ruang Aman Sejiwa merupakan inisiatif berbasis masyarakat yang lahir dari program Down to Zero, yang fokus pada pencegahan dan penanganan awal eksploitasi seksual anak baik di ruang daring maupun luring. Program ini digerakkan para fasilitator di wilayah rentan seperti Jakarta Utara dan Bogor, membawa edukasi langsung kepada keluarga dan komunitas.
Dalam program tersebut, peran ayah dipandang sangat strategis. Di banyak keluarga Indonesia yang masih hierarkis, ayah sering menjadi figur yang menentukan pola komunikasi rumah tangga. Ketika ayah mampu membuka dialog, membangun percakapan yang sehat, serta mengelola emosi dengan bijak, rumah dapat menjadi ruang aman pertama bagi anak. Perubahan kecil dalam pola komunikasi keluarga, menurut Aldilah, dapat berdampak besar pada pencegahan risiko.
Ia juga menyoroti tantangan pengasuhan digital. Dunia online menghadirkan risiko baru yang tidak selalu dipahami anak. Karena itu, ayah perlu mengembangkan komunikasi yang adaptif, menetapkan batasan tanpa menekan, dan peka terhadap sinyal-sinyal kecil saat anak membutuhkan perlindungan lebih besar. Banyak kasus yang ditangani KPAID menunjukkan bahwa kerentanan anak sering bermula dari komunikasi keluarga yang terputus.
Menutup perbincangan, Aldilah menyampaikan ajakan terbuka bagi seluruh ayah di Indonesia. “Mari hadir lewat komunikasi. Dengarkan anak-anak kita, ajak bicara mereka, dan jadilah ruang aman pertama yang mereka miliki. Ketika ayah hadir dalam percakapan, masa depan anak menjadi lebih kuat dan lebih cerah,” pesannya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....