Penanganan Difabel Anak Berbasis Komunitas Pertama di Indonesia

  • 17 Des 2025 17:58 WIB
  •  Bogor

KBRN, Bogor : Penanganan khusus terhdap anak penyandang disablitas di Kabupaten Bogor masih sangat minim. Salah satu yang paling terlihat adalah jumlah Sekolah Luar Biasa (SLB) untuk 40 Kecamatan hanya 6 sekolah saja.

Terdiri dari 5 sekolah negeri dibawah penanganan pemerintah Provinsi Jawa barat dan 1 sekolah swasta. Yang mengakibatkan anak penyandang difable kesulitan merajut masa depan bagi para buah hatinya.

Seperti di ungkapkan Wakil Ketua DPRD Kabupaten Bogor, Agus Salim saat peresmian terapi tumbuh kembang anak berbasis komunitas pertama di Indonesia di Bitung Sari Kecamatan Ciawi Kabupaten Bogor.

"Dibutuhkan dorongan perubahan dalam regulasi melalui Peraturan Daerah atau Peraturan Bupati khusus menangani persoalan disabilitas, Kalau BPJS sifatnya pusat ya tapi kalau Perda kan diamanatkan oleh Asala kemarin paling telat satu tahun harus ada Perbup nya kemudian juga berharap perhatian pemerintah kita di DPRD juga meminta perhatian lebih khusus terutama disini khususnya ini harus dibantu,” Jelas Agus Salim, Rabu (17/12/2025).

Jumlah disabilitas di Kabupaten Bogor dari data BPS sekitar 7000 orang hampir 8000 orang dan yang ada fasilitas dari pemerintah juga sangat minim.

CEO dan Founder Yayasan Jendela Ibu, Iftahni Jayanti mengungkapkan sulitnya warga kurang mampu mendapatkan pelayanan public.

“Hadirnya rumah tumbuh kembang jendela ibu ini juga menjadi solisi bagi orang tua yang selama ini mencari informasi kemana harus mendapatkan informasi, jadi kita sekarang mempunyai produk Craft, kebanyakan fashion juga yang ditambahkan dengan sulaman tangan menggunakan limbah kain yang kita dapatkan dari beberapa butik mitra kami lalu kita juga memiliki produk hasil karya anak anak disabilitas," tambah Iftahni.

Mereka yang tergabung dalam komunitas rumah tumbuh kembang jendela ibu juga memiliki agenda rutin baik anak maupun orang tuanya.

"Jadi seminggu sekali mereka akan terapi di hotel bintang lima, mereka mendapatkan terapi berenang dan stimulasi lainnya dari para terapis dan pelatihan terapis untuk orang tua serta membuka butik hasil karya yang di buat orang tua dan penyandang disabilitas di hotel bintang lima," tambah Irtahni.

Yayasan inipun tidak hanya memberikan terapi namun juga membagi pengetahuan tentang cara terapis kepada buah hati istimewanya. Dan sangat memberikan solusi bagi keluarga.

Kondisi inilah yang menurut akademisi IPB University Fikri Maulana menjadi metode penanganan secara swadaya ini menjadi kekuatan baru yang harus dikembangkan ditengah keterbatasan pelayanan yang diberikikan pemerintah dan minimnya fasilitas dan informasi yang ada.

Rumah Tumbuh Kembang Jendela Ibu dan Sekolah Inklusi Jendela Ibu memberikan jalan bagi Ibu dengan anak Istimewa bersama mengawal tumbuh anak hingga mandiri.

"Saya kira pelibatan masyarakat dan akademisi menciptakan ekosistem yangbtidak hanya menampung filantrophy tapi juga memberdayakan dan memberikan akses terapi kemudian akses pekerjaan yang ramah disabilitas ya, itu terjadi di beberapa kota ya Jakarta itu ada beberapa cafe ya yang pramusajinya ada yang disabilitas, saya kira bisa di adopsi pemerintah," tambah Fikri Maulana.

Mahalnya terapis serta terbatasnya akses pada BPJS juga harus dicarikan solusinya didalam komunitas ini. Pelatihan kemandirian kepada orang tua dan anak menjadi bagian dalam rantai ekonomi kreatif yang mereka ciptakan tanpa harus bersandar penuh pada donasi para dermawan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....