Kenapa Kita Masih Menabuh Drum Sahur? Ini Asal-Usulnya

  • 28 Feb 2026 14:51 WIB
  •  Bogor

RRI.CO.ID, Bogor – Selama bulan Ramadan, banyak kampung di Indonesia riuh dengan suara drum atau alat tabuh lainnya yang mengiringi sahur. Anak-anak hingga orang dewasa biasa mengelilingi kampung dengan alat tabuh sebagai “alarm” untuk membangunkan warga agar sahur tepat waktu. Kegiatan sahur sendiri merupakan makan sebelum fajar atau subuh, sebelum umat Islam menunaikan ibadah puasa hingga terbenamnya Matahari.

Fenomena menabuh drum keliling saat sahur ternyata bukan asli Indonesia. Tradisi ini dikenal dengan sebutan al-mesaharati atau mesaharaty, yang berasal dari dunia Islam di Timur Tengah. Seperti dikutip dari Al Arabiya, mesaharati secara harfiah berarti “penyeru malam”, di mana para penabuh berjalan mengelilingi desa atau kota untuk membangunkan orang sahur. Tradisi ini diperkirakan muncul sejak masa kekhalifahan Abbasiyah.

Mengutip dari Gulf News, Di Mesir, tradisi mesaharati sudah berlangsung sejak 238 Hijriah. Menurut beberapa sejarawan, termasuk Abdelmajid Abdul Aziz, praktik menabuh drum ini mulai terlihat pada masa Dinasti Fatimiyah. Penabuh drum, yang dikenal sebagai “baza”, biasanya memukul gendang dengan irama cukup keras agar terdengar ke seluruh lingkungan, sehingga tidak ada warga yang tertinggal sahur.

Tradisi serupa juga terlihat di Arab Saudi, Yaman, dan Kuwait. Di Kuwait, misalnya, penabuh drum biasanya berjalan berbaris di jalanan sambil diiringi anak-anak yang melantunkan doa. Sementara di Maroko, penabuh drum mengelilingi jalanan sempit sejak dini hari, dan keterampilan ini biasanya diwariskan dari ayah ke anak. Bunyi drum di jalanan menciptakan gema yang terdengar dari rumah ke rumah, menjaga tradisi tetap hidup hingga kini.

Di Palestina, kota Rafah di Jalur Gaza selatan juga meriah dengan suara drum setiap Ramadan. Para penabuh mengenakan pakaian tradisional Palestina lengkap dengan topi merah dan syal putih. Mereka berkeliling selama sekitar 90 menit sebelum kembali ke rumah untuk menikmati sahur bersama keluarga.

Di Indonesia sendiri, tradisi menabuh drum keliling menyesuaikan dengan budaya lokal, namun esensinya sama: membangunkan warga untuk sahur. Anak-anak dan remaja biasanya ikut serta, menjadikan momen ini juga sebagai ajang kebersamaan dan kegiatan sosial antarwarga di lingkungan kampung.

Meski teknologi seperti alarm digital kini semakin umum, tradisi drum keliling tetap lestari. Tradisi ini tidak hanya menyatukan warga, tetapi juga menjaga warisan budaya yang memiliki akar sejarah panjang di dunia Islam, dari Timur Tengah hingga ke Nusantara.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....