Kartu Merah karena Tutup Mulut, Mengapa FIFA Membuat Aturan Ini?

  • 21 Jun 2026 17:18 WIB
  •  Bogor

RRI.CO.ID, Bogor – Piala Dunia 2026 menghadirkan banyak perubahan dalam peraturan permainan sepak bola. Salah satu yang paling menyita perhatian adalah aturan baru yang memungkinkan pemain mendapat kartu merah jika menutupi mulut saat terlibat konfrontasi atau adu argumen di lapangan.

Aturan tersebut menjadi sorotan setelah gelandang Paraguay, Miguel Almirón, menjadi pemain pertama yang menerima kartu merah akibat pelanggaran itu saat menghadapi Turki saat menjalani laga Grup D Piala Dunia 2026 pada Sabtu, 20 Juni 2026, siang hari WIB. Kejadian tersebut memunculkan pertanyaan di kalangan penggemar sepak bola mengenai alasan di balik kebijakan baru FIFA tersebut.

Aturan ini sebenarnya lahir dari serangkaian kasus pelecehan verbal dan dugaan rasisme yang sulit dibuktikan karena pelaku kerap menutupi mulut saat berbicara. Salah satu insiden yang menjadi titik balik terjadi dalam pertandingan Liga Champions antara Real Madrid dan Benfica pada awal 2025.

Saat pertandingan sempat dihentikan akibat keributan di lapangan, pemain Benfica Gianluca Prestianni diduga menutupi mulut menggunakan tangan maupun jersinya ketika beradu argumen dengan penyerang Real Madrid, Vinícius Júnior. Tindakan tersebut membuat kamera siaran dan perangkat pertandingan kesulitan membaca gerak bibir untuk mengetahui apa yang sebenarnya diucapkan.

Vinícius kemudian melaporkan adanya dugaan hinaan verbal bermuatan rasial dan homofobik yang diarahkan kepadanya. Kasus tersebut memicu investigasi UEFA dan menjadi perhatian luas karena menunjukkan bagaimana pelaku dapat menyembunyikan ucapannya dari sorotan publik dengan menutup mulut saat berbicara.

UEFA akhirnya menjatuhkan sanksi larangan bermain tiga pertandingan kepada Prestianni. Kasus itu juga disebut berdampak pada peluang sang pemain untuk masuk dalam skuad Argentina menuju Piala Dunia 2026.

Insiden tersebut menjadi salah satu bahan evaluasi FIFA dan International Football Association Board (IFAB) dalam menyusun regulasi baru mengenai perilaku pemain di lapangan. Presiden FIFA Gianni Infantino saat itu mendorong lahirnya aturan yang lebih tegas terhadap upaya menyembunyikan ucapan saat terjadi konfrontasi.

Melalui regulasi yang mulai diterapkan pada Piala Dunia 2026, pemain yang dengan sengaja menutupi mulut menggunakan tangan, lengan, atau jersi saat terlibat ketegangan dengan lawan maupun wasit dapat dikenai kartu merah langsung. Wasit juga diperbolehkan memanfaatkan tayangan Video Assistant Referee (VAR) untuk memastikan adanya unsur kesengajaan dalam tindakan tersebut.

FIFA menegaskan aturan itu tidak berlaku untuk percakapan biasa antarpemain yang tidak mengandung unsur konflik. Fokus utama regulasi ini adalah situasi konfrontatif yang berpotensi memunculkan penghinaan, pelecehan verbal, ujaran kebencian, maupun tindakan rasisme.

Menurut FIFA, kebijakan tersebut bertujuan menutup celah yang selama ini digunakan pelaku untuk menghindari identifikasi melalui rekaman pertandingan. Dengan tidak adanya upaya menutupi gerak bibir, proses investigasi terhadap dugaan pelanggaran verbal diharapkan menjadi lebih mudah dan transparan.

Langkah ini juga menjadi bagian dari kampanye global FIFA dalam memerangi rasisme dan diskriminasi di sepak bola. Piala Dunia 2026 menjadi ajang pertama penerapan aturan tersebut, sementara kasus Miguel Almirón menjadi bukti bahwa regulasi baru itu akan diterapkan secara tegas tanpa memandang nama besar maupun status pemain.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....