PEPARDA VII Jawa Barat 2026: NPCI Kota Bogor Targetkan 20 Emas
- 21 Agt 2026 17:25 WIB
- Bogor
RRI.CO.ID, Bogor - National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) Kota Bogor, mencanangkan target tinggi pada ajang Pekan Paralimpik Daerah (PEPARDA) VII Jawa Barat yang akan digelar di Bandung pada November 2026 mendatang. Kontingen Kota Hujan membidik total 20 medali emas, 14 medali perak, dan 25 medali perunggu.
Siswa dan atlet NPCI Kota Bogor ditargetkan meraih emas dari berbagai cabang olahraga (cabor) unggulan. Potensi terbesar berada di cabor atletik dan renang yang menyediakan ratusan medali. Selain itu, potensi emas juga tersebar di 14 cabor andalan lainnya seperti menembak, anggar, tenis meja, panahan, judo blind, boccia, bulu tangkis, tenis lapangan kursi roda, balap sepeda, hingga catur.
"Kami mencanangkan target utama 20 medali emas untuk mendongkrak posisi di klasemen akhir. Peluang terbesar ada di cabor atletik dan renang karena jumlah medali yang diperebutkan sangat banyak, tetapi 14 cabor andalan lain juga siap menyumbangkan medali," ujar Sutisna, tim kepelatihan NPCI Kota Bogor.
Sejumlah nama atlet andalan dipetakan untuk mengawal misi kemenangan ini, di antaranya Junaedi yang turun di tiga nomor cabor atletik, Yeti di nomor lempar, Abdul Rahman (panahan), Suganda dan Bintang (renang), serta Victory (menembak).
Menjelang pelaksanaan pada November mendatang, porsi latihan kian ditingkatkan melalui pemusatan latihan intensif sebanyak sembilan kali seminggu. Para atlet menjalani latihan dua kali sehari dari Senin sampai Kamis, serta satu kali pada hari Jumat.
"Dengan sisa waktu efektif sekitar 60 hari, porsi latihan kami tingkatkan demi mematangkan fisik dan taktik bertanding. Anak-anak berlatih dua kali sehari agar stamina dan teknik mereka tetap terjaga," ungkapnya.
Di samping mematangkan persiapan, NPCI Kota Bogor juga mewaspadai persaingan ketat dari daerah rival seperti Kabupaten Bogor, Bekasi, Bandung, Majalengka, Garut, dan Tasikmalaya, serta faktor kendala cuaca.
"Persaingan dari daerah lain dipastikan sangat ketat. Selain fokus pada taktik, tantangan kami di lapangan adalah cuaca hujan di Bogor yang sering mengganggu jadwal latihan outdoor, serta menjaga kondisi tubuh atlet agar tidak ada yang sakit menjelang hari H," jelasnya.
Untuk menyiasati hal tersebut, program latihan disesuaikan dengan kondisi fisik dan potensi masing-masing atlet disabilitas. Atlet juga diperbolehkan melakukan latihan mandiri berdasarkan konsultasi dengan tim pelatih demi menjaga performa puncak saat bertanding kelak.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....