Ketahui Sejarah Singkat Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda

  • 06 Sep 2026 08:51 WIB
  •  Bogor

RRI.CO.ID, Bogor - Gunung Anak Krakatau merupakan gunung api aktif yang berada di kawasan Selat Sunda, di antara Pulau Jawa dan Sumatra. Sejarahnya tidak dapat dipisahkan dari Gunung Krakatau yang mengalami letusan dahsyat pada 1883. Setelah sebagian besar tubuh Krakatau runtuh dan membentuk kaldera di tengah laut, kawasan tersebut kemudian menjadi tempat tumbuhnya gunung api baru yang dikenal sebagai Gunung Anak Krakatau.

Dikutip dari geologi.esdm.go.id, Sebelum letusan besar 1883, kawasan Krakatau terdiri atas beberapa kerucut gunung api, terutama Rakata, Danan, dan Perbuwatan. Aktivitas vulkanik di kawasan ini telah berlangsung jauh sebelum abad ke-19, dengan catatan aktivitas yang antara lain terjadi pada 1680. Setelah mengalami masa tenang sekitar dua abad, Krakatau kembali menunjukkan aktivitas pada Mei 1883 yang kemudian berkembang menjadi rangkaian erupsi besar.

Puncak bencana terjadi pada 26–28 Agustus 1883, ketika Krakatau mengalami serangkaian ledakan sangat kuat. Erupsi tersebut menghancurkan sebagian besar tubuh gunung, menghasilkan material vulkanik dalam jumlah besar, dan menyebabkan terbentuknya kaldera di kawasan bekas Krakatau. Dampak terbesarnya berupa tsunami yang menyapu pesisir Jawa bagian barat dan Sumatra bagian selatan, dengan korban jiwa tercatat lebih dari 36.000 orang.

Setelah bencana 1883, kawasan Krakatau tidak langsung melahirkan gunung baru yang tampak di permukaan laut. Selama lebih dari empat dekade, wilayah tersebut mengalami masa relatif tenang hingga pada 29 Desember 1927 muncul aktivitas erupsi bawah laut. Semburan material vulkanik dan air laut dari dasar kaldera berlangsung berulang, menjadi tanda awal terbentuknya gunung api baru yang kemudian disebut Anak Krakatau.

Material hasil erupsi bawah laut secara bertahap menumpuk dan membentuk kerucut gunung api. Pada 1929, material vulkanik tersebut mulai muncul di atas permukaan laut dan membentuk daratan baru, sehingga Gunung Anak Krakatau secara nyata mulai terlihat sebagai pulau gunung api. Karena pertumbuhannya berlangsung melalui akumulasi lava, abu, lapili, dan material erupsi lainnya, bentuk serta ukuran gunung ini terus berubah dari waktu ke waktu.

Sejak kemunculannya, Gunung Anak Krakatau menunjukkan aktivitas vulkanik yang relatif sering dibandingkan periode panjang ketenangan sebelum letusan Krakatau 1883. Tubuh gunung bertambah tinggi melalui endapan hasil erupsi, sementara aktivitasnya terus dipantau karena letusan dapat memengaruhi kondisi laut dan wilayah pesisir di sekitarnya. Pemerintah Indonesia melalui lembaga vulkanologi juga telah melakukan pemantauan sejak masa Hindia Belanda, termasuk pengamatan terhadap perubahan bentuk dan aktivitas gunung.

Gunung Anak Krakatau merupakan gunung api baru yang tumbuh di kawasan kaldera yang terbentuk setelah dahsyatnya erupsi Krakatau pada 1883. Proses kemunculannya berlangsung secara bertahap selama puluhan tahun melalui aktivitas vulkanik, baik di bawah maupun di atas permukaan laut. Hingga saat ini, Anak Krakatau masih menjadi salah satu gunung api yang mendapat perhatian di Indonesia karena aktivitasnya menunjukkan bagaimana erupsi dapat mengubah bentuk daratan sekaligus memicu potensi tsunami di kawasan Selat Sunda.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....