Kegelisahan atas Nasib Petani Menggerakkan Alumni LPDP Bangun Kedaulatan Pangan

  • 13 Agt 2026 17:18 WIB
  •  Bogor

RRI.CO.ID, Bogor - Bagi Rivan Rinaldi, persoalan kesejahteraan petani bukanlah isu yang jauh dari kehidupannya. Sejak kecil di Desa Ladang, Aceh Selatan, ia telah akrab dengan dunia pertanian karena ibunya merupakan seorang petani. Pengalaman ikut ke sawah dan kebun pala membuat Rivan melihat langsung kehidupan petani sekaligus menumbuhkan kegelisahan: bagaimana mungkin masyarakat yang menghasilkan pangan justru belum tentu memperoleh kesejahteraan yang layak? Kegelisahan tersebut kemudian menjadi awal perjalanan Rivan untuk mencari solusi terhadap persoalan pertanian dan pangan.

Dikutip dari Media Keuangan Kementerian Keuangan RI, Kegelisahan itu semakin kuat ketika Rivan melihat ketimpangan harga hasil pertanian. Salah satu contoh yang ditemuinya adalah bayam yang dapat dijual sekitar Rp2.000 per ikat di pasar, sementara petani hanya menerima sekitar Rp300. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan petani bukan semata-mata soal meningkatkan produksi, tetapi juga mengenai akses pasar dan posisi tawar. Rivan kemudian menyadari bahwa petani membutuhkan ekosistem yang mampu memberikan kepastian harga dan penghargaan yang lebih layak terhadap hasil kerja mereka.

Upaya Rivan mencari jawaban mendapat momentum ketika ia memperoleh beasiswa LPDP pada 2016 dan melanjutkan pendidikan di Wageningen University & Research, Belanda. Di sana, ia mempelajari berbagai aspek pertanian, mulai dari sistem produksi tanaman, pertanian berkelanjutan, teknologi, lingkungan, hingga pasar. Setelah menyelesaikan pendidikan, Rivan kembali ke Aceh dan bekerja di perusahaan pengolahan kelapa dengan mendampingi lebih dari 600 petani mitra. Pengalaman akademik dan profesional tersebut membuatnya semakin memahami bahwa pembangunan pertanian harus menghubungkan petani dengan industri dan pasar, bukan hanya meningkatkan produksi di tingkat lahan.

Pada 2024, Rivan mengambil langkah lebih jauh dengan mendirikan Rumoh Pangan Aceh. Apa yang dilakukan? Inisiatif tersebut berupaya membangun ekosistem pangan yang lebih adil dengan memperkuat hubungan antara petani, pasar, dan konsumen. Salah satu pendekatannya adalah contract farming, yaitu kesepakatan harga minimum sebelum petani melakukan produksi sehingga mereka memiliki kepastian pasar dan pendapatan. Hingga laporan tersebut diterbitkan pada 3 Agustus 2026, sekitar 200 petani dan pelaku pangan telah terlibat dalam berbagai program Rumoh Pangan Aceh.

Selain memberikan kepastian pasar, Rumoh Pangan Aceh juga mengembangkan komoditas pangan lokal menjadi produk olahan. Langkah ini bertujuan menciptakan nilai tambah agar manfaat ekonomi tidak berhenti pada penjualan bahan mentah. Program tersebut juga mencakup penyelamatan pangan, sedekah pangan, dan edukasi gizi bagi masyarakat. Dengan demikian, gerakan yang dibangun Rivan tidak hanya berorientasi pada kesejahteraan petani, tetapi juga berupaya memperkuat akses masyarakat terhadap pangan sekaligus mengembangkan potensi pangan lokal.

Upaya tersebut memiliki relevansi dengan agenda kemandirian pangan nasional. Pemerintah terus mendorong penguatan produksi dalam negeri dan peran petani serta nelayan dalam memenuhi kebutuhan pangan masyarakat. Pada PENAS XVII Petani dan Nelayan 2026 di Gorontalo, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menyampaikan bahwa kemandirian pangan menjadi salah satu prioritas pemerintah di tengah berbagai tantangan global. Dalam konteks tersebut, pengalaman Rivan menunjukkan bahwa kedaulatan pangan dapat dibangun dari tingkat daerah melalui penguatan petani, pasar lokal, pengolahan pangan, dan keterlibatan masyarakat.

Kisah Rivan pada akhirnya memperlihatkan bagaimana pendidikan dapat menjadi pintu masuk untuk menciptakan perubahan sosial. Siapa? Seorang alumni LPDP bersama petani dan pelaku pangan. Apa? Membangun ekosistem pangan yang lebih adil dan berkelanjutan. Kapan? Dimulai melalui perjalanan pendidikan dan pengalaman profesionalnya, kemudian diwujudkan melalui Rumoh Pangan Aceh pada 2024. Di mana? Berawal dari Aceh. Mengapa? Karena kegelisahan terhadap kondisi dan kesejahteraan petani. Bagaimana? Dengan menghubungkan petani dengan pasar, memberikan kepastian harga, mengembangkan pangan lokal, serta menciptakan nilai tambah. Dari kegelisahan tersebut, Rivan membuktikan bahwa kedaulatan pangan bukan sekadar tentang menghasilkan pangan, tetapi juga memastikan petani sebagai produsen utama memperoleh kehidupan yang lebih sejahtera.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....