KRKP Dorong Gerakan Penyelamatan Pangan di Kawasan Wisata Labuan Bajo
- 24 Jun 2026 09:00 WIB
- Bogor
Poin Utama
- Isu penyelamatan pangan semakin mendapat perhatian di berbagai daerah Indonesia
- Said Abdullah, yang berasal dari Bogor, menegaskan bahwa persoalan kehilangan dan pemborosan pangan tidak hanya berdampak pada ketersediaan makanan
- Bagi masyarakat Bogor, keterlibatan Said Abdullah dan KRKP dalam inisiatif nasional ini menunjukkan bahwa gagasan dan gerakan yang lahir dari Bogor mampu memberikan kontribusi nyata bagi penguatan ketahanan pangan di berbagai daerah
RRI.CO.ID, Bogor- Isu penyelamatan pangan semakin mendapat perhatian di berbagai daerah Indonesia, termasuk Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Melalui Program Urban Futures, Konsorsium Pangan Bernas menggelar seminar dan Focus Group Discussion (FGD) bertema Penguatan Kolaborasi Multipihak untuk Penyelamatan Pangan di Kabupaten Manggarai Barat yang dilaksanakan pada tanggal 3 Juni 2026. Kegiatan ini menjadi ruang pertemuan berbagai pemangku kepentingan untuk merumuskan langkah bersama dalam mengurangi kehilangan dan pemborosan pangan yang masih menjadi tantangan serius di kawasan wisata Labuan Bajo.
Data yang dipaparkan dalam forum menunjukkan bahwa timbulan sisa pangan dan sampah makanan di Labuan Bajo mencapai sekitar 4.830 ton per tahun. Kondisi tersebut dinilai berpotensi memengaruhi ketahanan pangan daerah sekaligus memperbesar beban lingkungan. Berbagai pihak mulai dari pemerintah daerah, pelaku usaha hotel, restoran, kafe, pemilik kapal wisata, komunitas, hingga organisasi masyarakat sipil hadir untuk membangun kesepahaman mengenai pentingnya penyelamatan pangan sebagai bagian dari penguatan sistem pangan berkelanjutan.
Koordinator Nasional Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP), Said Abdullah, yang berasal dari Bogor, menegaskan bahwa persoalan kehilangan dan pemborosan pangan tidak hanya berdampak pada ketersediaan makanan, tetapi juga mengakibatkan terbuangnya berbagai sumber daya yang digunakan selama proses produksi. Menurutnya, setiap makanan yang berakhir di tempat sampah sejatinya juga berarti hilangnya air, energi, tenaga kerja, dan biaya yang telah dikeluarkan untuk menghasilkan pangan tersebut. Karena itu, upaya mengurangi pangan berlebih memiliki dampak langsung terhadap penguatan ekonomi lokal.
Said menilai Kabupaten Manggarai Barat perlu memberikan perhatian lebih serius terhadap isu penyelamatan pangan seiring berkembangnya sektor pariwisata yang terus meningkat dalam satu dekade terakhir. Pertumbuhan jumlah wisatawan mendorong meningkatnya kebutuhan pangan, namun di sisi lain juga berpotensi memperbesar volume limbah makanan. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang melibatkan seluruh pelaku dalam rantai pasok pangan, mulai dari produsen, distributor, pelaku usaha, hingga konsumen.
Dari hasil seminar dan diskusi, para peserta menyepakati lima agenda kolaborasi utama yang akan menjadi dasar gerakan penyelamatan pangan di Manggarai Barat. Agenda tersebut meliputi penyusunan data dasar limbah pangan yang diperbarui secara berkala, penguatan komitmen sektor hotel dan restoran untuk mengurangi pemborosan makanan, pengembangan sistem redistribusi pangan layak konsumsi kepada kelompok rentan, peningkatan penggunaan bahan pangan lokal, serta penyusunan peta jalan sistem pangan yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.
Direktur Kewaspadaan Pangan dan Gizi Badan Pangan Nasional, Nita Yulianis, menyampaikan bahwa keberhasilan penyelamatan pangan membutuhkan dukungan kebijakan yang kuat, edukasi masyarakat, serta sistem informasi yang mampu menyediakan data secara akurat. Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan Kabupaten Manggarai Barat, Vinsensius Gande, mengingatkan bahwa Indonesia masih menghadapi persoalan besar terkait limbah makanan yang mencapai puluhan juta ton setiap tahun. Dalam kesempatan yang sama, Pemerintah Kota Tasikmalaya turut membagikan pengalaman melalui Program Bakul Tasik yang berhasil mendorong redistribusi pangan berlebih kepada masyarakat yang membutuhkan.
Bagi masyarakat Bogor, keterlibatan Said Abdullah dan KRKP dalam inisiatif nasional ini menunjukkan bahwa gagasan dan gerakan yang lahir dari Bogor mampu memberikan kontribusi nyata bagi penguatan ketahanan pangan di berbagai daerah Indonesia. Melalui kolaborasi lintas sektor yang dibangun di Manggarai Barat, semangat penyelamatan pangan tidak hanya menjadi solusi mengurangi limbah makanan, tetapi juga menjadi langkah strategis untuk menjaga ketahanan pangan, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, serta menciptakan sistem pangan yang lebih berkelanjutan di masa depan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....