BOBIBOS: Laboraturium, Uji Jalan, Sampai Dilirik Negara Lain, Bagaimana dalam Negeri?

  • 07 Mei 2026 10:13 WIB
  •  Bogor

RRI.CO.ID, Bogor - Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Ditjen Migas) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), mematangkan rencana uji laboratorium bahan bakar Bobibos. Produk ini dikembangkan PT Inti Sinergi Formula. Ditjen Migas meminta produsen segera menuntaskan pengujian. Pemerintah ingin memastikan posisi produk, apakah masuk kategori bahan bakar nabati atau bahan bakar minyak.

Pemanggilan ini merupakan tindak lanjut dari pertemuan awal pada 14 April lalu, untuk mematangkan rencana pengujian laboratorium serta memastikan standardisasi dan klasifikasi produk sebelum dipasarkan atau digunakan secara luas," ujar Direktur Teknik dan Lingkungan Migas, Noor Arifin Muhammad, dalam keterangan resmi di Jakarta pada April lalu tahun 2026 .

Founder Bobibos M Iklas Thamrin menjelaskan proses uji dilakukan bertahap. Tahap awal dilakukan di Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi atau Lemigas. Pengujian awal mencakup karakter dasar bahan bakar. Aspek yang diuji meliputi sifat fisika dan kimia, stabilitas, kompatibilitas mesin, hingga kualitas penyalaan.

“Dalam tahap awal, pengujian akan mencakup berbagai aspek penting, seperti sifat fisika dan kimia, stabilitas, kompatibilitas dengan mesin, kemudahan mengalir, kualitas penyalaan, hingga tingkat korosivitas," kata Iklas.

Pengujian juga menyasar performa. Uji dilakukan pada emisi gas buang, daya tahan mesin, serta pembentukan residu pembakaran. Tim Lemigas akan mengambil sampel dari tangki penyimpanan di beberapa titik. Proses ini memakai wadah tersertifikasi dan dilengkapi berita acara pemeriksaan.

Sebelumnya, uji internal menemukan sebagian parameter belum sesuai standar bahan bakar yang berlaku. Proses pengujian lanjutan menjadi penentu kelayakan produk. Pemerintah menyambut inovasi bahan bakar alternatif. Proses verifikasi tetap dijalankan untuk menjamin keamanan dan kepastian bagi pengguna. Bobibos dikembangkan dari limbah jerami padi dan pertanian. Produk ini diklaim memiliki nilai oktan tinggi dengan RON 98.

Sementara itu ketertarikan terhadap bahan bakar nabati berbasis jerami, Bobibos, mulai terlihat dari luar negeri. Sejumlah pelaku usaha dari kawasan Asia disebut sudah menjajaki peluang kerja sama, bahkan sebelum produk ini resmi lolos pengujian di Indonesia.

Dewan Pembina Bobibos sekaligus Anggota DPR RI, Mulyadi, mengungkapkan bahwa minat tersebut datang dari beberapa negara tetangga. Mereka disebut memantau perkembangan Bobibos dan menunggu momentum peluncuran awal di kawasan regional. Menurutnya, negara-negara tersebut melihat potensi produksi berbasis jerami yang dinilai relevan dengan kondisi agrikultur mereka.

Apalagi, bahan baku yang melimpah dinilai bisa menjadi keunggulan jika produksi dilakukan secara massal. Selain itu mulyadi juga mengatakan ketertarikan negara negara seperti Bangladesh maupu vietnam sudah ditunjukan, dengan sudahbdilakukan komunikasi mulai dari sektor swasta hingga ke level menteri khususnya dari Vietnam. Menurutnya, negara-negara tersebut melihat potensi produksi berbasis jerami yang dinilai cocok dengan kondisi agrikultur mereka. Apalagi, bahan baku yang melimpah dinilai bisa menjadi keunggulan jika produksi dilakukan secara massal.

“Setelah Timor-Leste, negara mereka meminta diprioritaskan untuk kerja sama, karena ketiga negara tersebut memiliki area persawahan yang memungkinkan untuk Bobibos produksi massal,” ujar Mulyadi.

Melihat respon yang begitu posistif dari negara negara dikawasan asia terhadap Bobibos, Pengembangan bahan bakar alternatif Bahan Bakar Orisinil Buatan Indonesia Bos (Bobibos) memasuki tahap krusial. Setelah mendapat respons positif dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), produk ini akan segera menjalani uji jalan untuk mengukur kelayakannya digunakan pada kendaraan bermotor.

Berbeda dari sekadar pengujian laboratorium, uji jalan atau road test menjadi fase penting karena dirancang untuk mensimulasikan kondisi penggunaan nyata di lapangan. Artinya, Bobibos tidak hanya diuji dari sisi kandungan kimia, tetapi juga performanya saat digunakan langsung pada mobil dan sepeda motor.

Direktur PT Inti Sinergi Formula, Randy F. Firdaus, mengatakan bahwa skenario pengujian akan mencakup berbagai kondisi jalan yang umum ditemui di Indonesia. Pendekatan ini dinilai penting karena karakteristik jalan di Indonesia sangat beragam. Di wilayah perkotaan, kendaraan dihadapkan pada kemacetan dan setop-and-go yang intens.

Randy menjelaskan, parameter yang akan diukur dalam uji jalan ini mencakup konsumsi bahan bakar, emisi gas buang, serta performa mesin secara keseluruhan. Ketiga aspek ini menjadi indikator utama dalam menentukan apakah suatu bahan bakar layak digunakan secara luas.

Dengan sedang dilakukanya serangkaian tes oleh pemerintah terhadap Bobibos maka saat ini Bobibos belum dipasarkan secara komersial, maka perlu dingatkan kepada masyarakat agar tidak percaya apabila ada pihak pihak yang menyatakan bahwa mereka menjual bobibos.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....