Sekoteng jadi Primadona Kuliner Hangat Malam Hari

  • 31 Mei 2026 22:41 WIB
  •  Bogor

RRI.CO.ID, Bogor - Ketika malam mulai melarut dan udara dingin mulai menusuk tulang, kepulan asap tipis dari sebuah gerobak kayu di sudut jalanan kota selalu berhasil memikat pejalan kaki untuk singgah. Di tengah gempuran tren minuman modern yang datang dan pergi, sekoteng tetap kukuh berdiri sebagai primadona kuliner malam yang diburu masyarakat lintas generasi. Minuman hangat tradisional berbasis jahe ini bukan sekadar pelepas dahaga di kala malam, melainkan sebuah warisan budaya kuliner yang menyimpan cerita tentang kehangatan, kesehatan, dan ketahanan tradisi di tengah modernisasi perkotaan.

Melihat anatominya, semangkuk sekoteng merupakan perpaduan harmonis antara rasa pedas manis yang menggigit dan tekstur isian yang kaya serta beragam. Kuah jahe yang menjadi fondasi utama minuman ini biasanya dibuat dari jahe emprit atau jahe merah yang dimemarkan, lalu direbus bersama gula pasir atau gula merah serta daun pandan wangi. Di dalam mangkuk kecil bergambar ayam jago yang ikonis, kuah panas tersebut menyatukan berbagai isian tekstural mulai dari pacar cina yang kenyal, kacang tanah goreng yang renyah, potongan roti tawar yang lembut menyerap kuah, hingga kacang hijau dan kolang-kaling yang padat.

Menilik sejarahnya yang panjang, sekoteng sebenarnya merupakan produk akulturasi budaya yang sangat sukses antara kuliner Tionghoa dan cita rasa lokal Nusantara. Nama "sekoteng" diyakini berasal dari dialek Hokkien, yaitu “su kou teng” yang secara harfiah berarti sup empat buah-buahan atau ramuan yang menyehatkan. Namun, versi lain yang berkembang di masyarakat Jawa menyebutkan bahwa nama tersebut merupakan singkatan dari kalimat “nyokot weteng” yang berarti menggigit perut, menggambarkan sensasi hangat dan pedas jahe yang langsung terasa di lambung begitu minuman ini ditelan.

Tidak hanya memanjakan lidah yang kedinginan, khasiat kesehatan yang terkandung di dalam setiap tetes kuah sekoteng menjadi alasan utama mengapa minuman ini tetap relevan hingga hari ini. Kandungan gingerol dan shogaol di dalam jahe mentah yang menjadi bahan baku utamanya terbukti secara ilmiah memiliki sifat antiinflamasi dan antioksidan yang tinggi. Mengonsumsi sekoteng secara rutin saat malam hari diyakini mampu melancarkan peredaran darah, meredakan gejala masuk angin, mengatasi mual, hingga meningkatkan sistem imunitas tubuh secara alami tanpa efek samping obat-obatan kimia.

Di era digital ini, para pedagang sekoteng juga menunjukkan daya penyintas yang luar biasa dengan mulai beradaptasi pada perkembangan teknologi modern tanpa membuang cara tradisional mereka. Jika dahulu kita hanya bisa menunggu suara dentingan mangkuk khas yang dipukul sendok oleh pedagang keliling, kini sekoteng dengan mudah dipesan melalui aplikasi ojek daring atau ditemukan di pusat-pusat kuliner malam legendaris. Beberapa pelaku usaha kuliner bahkan mulai melakukan inovasi dengan menambahkan variasi modern seperti susu kental manis, keju, atau menggunakan jahe merah organik demi menggaet pasar generasi muda.

Bagi para pelanggannya, semangkuk sekoteng sering kali bukan sekadar urusan mengenyangkan perut atau menghangatkan badan semata, melainkan medium nostalgia yang membangkitkan memori masa lalu. Menikmati sekoteng di bangku plastik pinggir jalan sembari mendengarkan hiruk-pikuk malam kota melahirkan atmosfer kebersamaan yang intim dan bersahaja, hal yang sulit ditemukan di kafe-kafe waralaba modern. Kehadiran sekoteng di sudut kota seolah menjadi pengingat ritme hidup yang santai dan membumi di tengah kepungan gaya hidup urban yang serbacepat dan menuntut.

Akhirnya, sekoteng berhasil membuktikan diri bahwa keaslian rasa dan kesederhanaan penyajian memiliki tempat yang abadi di hati masyarakat Indonesia. Kuliner ini bukan lagi sekadar minuman tradisional yang terancam punah, melainkan sebuah identitas kultural yang terus hidup dan bergerak dinamis melintasi zaman. Selama malam-malam dingin masih menyelimuti kota, dan selama masyarakat masih merindukan kehangatan yang jujur, maka kepulan asap dari gerobak sekoteng akan selalu setia hadir menghiasi sudut-sudut jalanan dan komplek - komplek perumahan, seperti yang ditemui, di kota Bogor, Bogor Utara.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....