Es Teh Manis dan Risiko Kesehatan yang Perlu Diwaspadai
- 22 Mei 2026 18:45 WIB
- Bogor
RRI.CO.ID, Bogor - Di tengah teriknya cuaca, tidak ada yang lebih menggoda daripada segelas es teh manis. Minuman ini telah menjadi pendamping setia masyarakat Indonesia saat menyantap makanan apa pun, mulai dari warung pinggir jalan hingga restoran bintang lima. Harganya yang terjangkau dan rasanya yang menyegarkan membuat es teh manis sulit ditolak.
Namun, di balik kesegarannya, apakah Anda tahu apa saja yang terkandung di dalam segelas es teh manis? Di balik kepopulerannya, terdapat beberapa fakta unik serta dampak tersembunyi bagi tubuh jika dikonsumsi secara berlebihan.
Fakta Menarik Seputar Es Teh Manis
- Aroma Khas Teh Melati Indonesia: Berbeda dengan es teh di luar negeri yang cenderung menggunakan teh hitam polos (black tea), es teh manis di Indonesia mayoritas menggunakan jenis jasmine tea (teh melati). Kombinasi aroma bunga melati yang harum dan rasa sepat teh menciptakan cita rasa autentik yang dirindukan banyak orang.
- Pendamping Makanan Berlemak: Es teh manis sering kali dianggap sebagai "pembersih langit-langit mulut" (palate cleanser) yang efektif. Sifat teh yang sedikit kesat (sepat) mampu memecah rasa enek setelah kita mengonsumsi makanan berminyak atau bersantan seperti soto, bakso, atau nasi goreng.
- Efek Menyegarkan Ganda: Kombinasi suhu dingin dari es batu dan kandungan kafein alami di dalam teh terbukti secara ilmiah mampu memberikan stimulan instan. Hal inilah yang membuat tubuh langsung terasa segar dan rasa kantuk hilang seketika setelah meminumnya.
Sisi Gelap Konsumsi Es Teh Manis Berlebihan
Meskipun nikmat, mengonsumsi es teh manis setiap hari—terutama dalam porsi besar—bisa memicu berbagai masalah kesehatan yang serius. Berikut adalah beberapa dampak buruknya bagi tubuh:
- Risiko Diabetes dan Obesitas: Faktor utama yang berbahaya bukanlah tehnya, melainkan jumlah gula cair di dalamnya. Segelas es teh manis restoran rata-rata mengandung 2 hingga 4 sendok makan gula. Jika dikonsumsi rutin, lonjakan kalori dan glukosa ini akan memicu resistensi insulin yang menjadi akar penyakit diabetes tipe 2 serta obesitas.
- Memicu Batu Ginjal: Teh kaya akan senyawa kimia alami yang disebut oksalat. Ketika tubuh menerima asupan oksalat secara berlebihan, zat ini akan mengikat kalsium di dalam urin dan membentuk kristal padat di dalam ginjal, yang lambat laun mengkristal menjadi batu ginjal.
- Menghambat Penyerapan Zat Besi (Anemia): Teh mengandung senyawa bernama tanin. Jika Anda terbiasa minum es teh langsung saat atau setelah makan, tanin akan mengikat zat besi yang berasal dari makanan (seperti daging atau sayuran) di dalam saluran pencernaan. Akibatnya, tubuh tidak dapat menyerap zat besi secara optimal, yang dalam jangka panjang bisa memicu anemia atau kurang darah.
- Gangguan Pencernaan dan Kafein: Bagi sebagian orang yang sensitif, kandungan tanin yang pekat dapat mengiritasi lapisan lambung, terutama jika diminum saat perut kosong. Selain itu, kandungan kafein di dalamnya bisa memicu asam lambung naik, jantung berdebar, hingga gangguan tidur.
Es teh manis tetap boleh dinikmati sebagai pelepas dahaga yang menyenangkan. Kuncinya terletak pada moderasi. Untuk menjaga kesehatan, Anda bisa menyiasatinya dengan mengurangi takaran gula (minta less sugar), beralih ke es teh tawar, atau memberikan jeda waktu sekitar 30 hingga 60 menit setelah makan sebelum meminumnya agar penyerapan nutrisi tubuh tidak terganggu.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....