Hari Keselamatan Pasien, Dorong Layanan Kesehatan Lebih Aman
- 17 Sep 2026 16:00 WIB
- Bogor
RRI.CO.ID, Bogor - Keselamatan pasien menjadi isu krusial yang terus disorot dalam sistem kesehatan global. Tingginya angka kejadian yang membahayakan pasien selama menjalani perawatan mendorong berbagai pihak memperkuat upaya pencegahan risiko medis. Kondisi ini menjadi latar belakang lahirnya sebuah peringatan internasional yang berfokus pada keamanan pasien.
Peringatan tersebut adalah International Patient Safety Day atau Hari Keselamatan Pasien Internasional yang diperingati setiap 17 September di seluruh dunia, termasuk pada Kamis, 17 September 2026. Peringatan ini digagas untuk mendorong kolaborasi antara pasien, tenaga kesehatan, dan pembuat kebijakan dalam upaya mengurangi risiko bahaya yang sebenarnya dapat dicegah dalam pelayanan kesehatan.
World Health Organization (WHO) berperan sebagai organisasi yang memimpin kampanye global ini, dengan menyusun pedoman dan mempromosikan praktik terbaik keselamatan kesehatan di seluruh dunia. Selain WHO, sejumlah organisasi seperti The Joint Commission, Institute for Healthcare Improvement (IHI), dan ECRI Institute turut ambil bagian dalam mendukung inisiatif ini.
Dilansir dari World Health Organization (WHO), bahaya yang dialami pasien di seluruh dunia menyebabkan jumlah kematian yang setara dengan penyakit tuberkulosis, dengan satu dari sepuluh pasien rumah sakit mengalami kerugian saat menjalani perawatan. Kondisi ini diperparah dengan estimasi 2,6 juta kematian setiap tahun akibat perawatan yang tidak aman di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.
Selain berdampak pada nyawa manusia, minimnya keselamatan pasien juga membebani sektor kesehatan secara finansial. Hampir 15 persen dari total belanja kesehatan global terbuang untuk menangani berbagai insiden akibat lemahnya penjagaan keselamatan pasien. Kesalahan administratif turut menjadi penyumbang signifikan atas persoalan tersebut, mengingat besarnya volume dokumen dalam proses pelayanan kesehatan.
Sosok yang dikenal sebagai pelopor gerakan keselamatan pasien modern adalah Dr. Lucian Leape, seorang profesor sekaligus ahli bedah dari Harvard. Melalui artikelnya berjudul "Error in Medicine" yang dipublikasikan dalam Journal of the American Medical Association pada 1994, Leape membawa perhatian dunia terhadap kesalahan medis sebagai masalah sistemik, bukan semata kesalahan individu.
Leape turut mengadvokasi pendekatan berbasis sistem yang tidak bersifat menghukum dalam pencegahan kesalahan medis. Gagasannya memberikan pengaruh besar terhadap kebijakan dan praktik kesehatan secara global, serta menjadi fondasi bagi berbagai perbaikan dalam budaya keselamatan pasien hingga saat ini.
Perjalanan panjang dunia medis dalam mendukung keselamatan pasien turut tercermin dari sejumlah tonggak penting, mulai dari keberhasilan transplantasi jantung manusia pertama oleh Dr. Christiaan Barnard pada 1967, hingga penemuan mesin dialisis ginjal buatan oleh Willem Kolff pada 1985. Pada 2001, tim dokter di New York berhasil melakukan operasi jarak jauh menggunakan telekomunikasi berkecepatan tinggi terhadap pasien di Strasbourg, Prancis, yang dikenal dengan sebutan "Lindbergh Operation".
Sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Health Affairs pada 2019 turut menemukan bahwa lingkungan kerja yang memungkinkan staf rumah sakit menyampaikan kekhawatiran secara bebas terkait kondisi yang dapat merugikan pasien terbukti berkaitan dengan hasil perawatan yang jauh lebih positif.
Hingga kini, tema resmi peringatan pada 2026 belum diumumkan oleh WHO. Namun, tema-tema pada tahun-tahun sebelumnya banyak menyoroti aspek penting seperti keamanan pengobatan, keselamatan ibu dan bayi baru lahir, hingga keselamatan tenaga kesehatan.
Masyarakat dapat turut berperan mendukung keselamatan pasien dengan menjaga komunikasi terbuka bersama dokter, memastikan dosis obat sesuai dengan membaca label kemasan secara cermat, serta aktif mencari informasi terkait kondisi kesehatan masing-masing. Langkah lain yang dapat dilakukan yakni memastikan tenaga medis mengetahui riwayat alergi, mempersiapkan pertanyaan sebelum kunjungan ke fasilitas kesehatan, serta melibatkan pendamping saat menjalani perawatan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....