Dari Pertempuran Solferino ke Indonesia, Jejak Panjang Palang Merah Internasiona

  • 16 Sep 2026 17:56 WIB
  •  Bogor

RRI.CO.ID, Bogor - Setiap 17 September, Indonesia memperingati Hari Palang Merah Indonesia. Peringatan tersebut tidak terlepas dari sejarah panjang gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah yang berawal dari peristiwa kemanusiaan di Solferino, Italia, pada 1859.

Pada 24 Juni 1859, Henry Dunant menyaksikan banyak tentara terluka dan gugur setelah Pertempuran Solferino. Kondisi tersebut mendorong Dunant untuk membantu para korban tanpa membedakan pihak yang bertikai. Pengalaman itu kemudian dituangkan dalam bukunya yang berjudul A Memory of Solferino, yang diterbitkan pada 1862.

Melalui buku tersebut, Dunant mengusulkan pembentukan organisasi sukarelawan yang dapat membantu korban perang. Ia juga mendorong adanya perjanjian internasional yang memberikan perlindungan kepada korban konflik dan tenaga yang memberikan pertolongan.

Gagasan tersebut kemudian mendorong terbentuknya sebuah komite yang menjadi cikal bakal International Committee of the Red Cross (ICRC) di Jenewa pada Februari 1863. Pada Oktober tahun yang sama, konferensi internasional di Jenewa turut membahas pembentukan perhimpunan bantuan nasional serta penggunaan lambang palang merah.

Perkembangan penting berikutnya terjadi pada 1864 ketika sejumlah negara mengadopsi Konvensi Jenewa pertama. Konvensi tersebut mengatur perlindungan dan perawatan bagi tentara yang terluka dan sakit dalam konflik bersenjata serta memperkuat penggunaan lambang palang merah sebagai tanda perlindungan bagi layanan medis.

Perkembangan itu kemudian menjadi bagian dari lahirnya Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional yang saat ini terdiri atas tiga komponen utama, yakni ICRC, International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies (IFRC), serta perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah nasional. Gerakan tersebut kini menjadi jaringan kemanusiaan global yang membantu masyarakat menghadapi konflik, bencana, krisis kesehatan, dan berbagai keadaan darurat.

Sejarah gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional tersebut juga menjadi bagian dari perjalanan Palang Merah di berbagai negara, termasuk Indonesia. Karena itu, peringatan Hari Palang Merah Indonesia tidak hanya menjadi momentum untuk mengenang perjalanan organisasi kemanusiaan nasional, tetapi juga mengingat kembali nilai kemanusiaan yang menjadi dasar gerakan tersebut.

Lebih dari satu setengah abad setelah Henry Dunant menyaksikan penderitaan korban Pertempuran Solferino, gagasan untuk memberikan bantuan tanpa membedakan latar belakang tetap menjadi bagian penting dari Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah. Berawal dari sebuah peristiwa di Italia, gagasan kemanusiaan tersebut berkembang melampaui batas negara dan menjadi gerakan internasional yang hingga kini membantu masyarakat di berbagai belahan dunia.

(Rafi Fakhri Ramadhan - Universitas Pancasila)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....