Karyawan Lebih Berani Jujur kepada AI daripada Atasan, Ini Alasannya

  • 21 Agt 2026 10:26 WIB
  •  Bogor

RRI.CO.ID, Bogor – Kecerdasan buatan atau AI mulai digunakan dalam berbagai aktivitas pekerjaan, termasuk membantu pengambilan keputusan dan evaluasi. Menariknya, sebuah penelitian menemukan bahwa sebagian karyawan justru lebih berani menyampaikan pendapat secara terbuka kepada pemimpin berbasis AI dibandingkan kepada atasan manusia.

Mengutip Psychology Today, temuan tersebut berasal dari tiga eksperimen yang dilakukan peneliti dari Zhejiang University. Penelitian itu membandingkan kesediaan karyawan untuk menyampaikan kekhawatiran, pendapat, dan masukan kepada pemimpin berbasis algoritma dengan pemimpin manusia. Hasilnya menunjukkan bahwa responden lebih terbuka kepada pemimpin berbasis AI, terutama ketika berhadapan dengan tugas-tugas yang bersifat kognitif.

Peneliti menduga salah satu penyebabnya adalah persepsi terhadap keadilan. Karyawan dalam penelitian tersebut cenderung menganggap pemimpin berbasis AI lebih adil, sehingga mereka merasa lebih aman untuk menyampaikan pendapat tanpa khawatir mendapat konsekuensi sosial.

Rasa aman untuk berbicara secara terbuka ini menjadi hal penting dalam lingkungan kerja. Seorang karyawan mungkin memiliki kritik atau gagasan yang berbeda dari atasannya, tetapi memilih diam karena khawatir pendapat tersebut memengaruhi hubungan dengan atasan atau penilaian terhadap kinerjanya.

Situasi tersebut dapat terjadi karena hubungan antara karyawan dan atasan manusia memiliki unsur sosial yang tidak ditemukan dalam interaksi dengan sistem AI. Atasan dapat mengingat perbedaan pendapat yang pernah disampaikan bawahannya, sementara algoritma tidak memiliki hubungan sosial yang sama dengan karyawan.

Namun, penelitian tersebut juga menemukan batasan yang menarik. Keunggulan AI dalam mendorong keterbukaan hanya terlihat pada tugas-tugas yang berkaitan dengan pemikiran, seperti pengambilan keputusan, penilaian kinerja, dan pembagian sumber daya. Ketika menyangkut persoalan emosional, keunggulan tersebut tidak lagi terlihat.

Artinya, karyawan belum tentu merasa lebih nyaman membuka sisi emosional kepada mesin. AI mungkin dianggap lebih netral ketika seseorang harus menyampaikan pendapat mengenai pekerjaan, tetapi manusia tetap memiliki peran penting ketika komunikasi membutuhkan empati, pemahaman emosi, dan hubungan interpersonal.

Penelitian ini tidak menyimpulkan bahwa AI dapat atau seharusnya menggantikan pemimpin manusia. Sebaliknya, temuan tersebut dapat menjadi bahan evaluasi bagi para pemimpin mengenai suasana komunikasi di tempat kerja, terutama jika karyawan merasa lebih aman menyampaikan pendapat kepada teknologi daripada kepada atasannya sendiri.

Bagi perusahaan, hasil penelitian ini menunjukkan pentingnya membangun lingkungan kerja yang memungkinkan karyawan menyampaikan kritik dan masukan tanpa takut mendapat perlakuan negatif. Keterbukaan tersebut dapat membantu organisasi menemukan masalah lebih awal sekaligus mendorong munculnya ide baru dari para pekerja.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....