Jarang Baca Buku Bikin Lebih Sering Overthinking? Ini Penjelasannya
- 15 Agt 2026 13:41 WIB
- Bogor
RRI.CO.ID, Bogor – Kebiasaan membaca buku ternyata tidak hanya berkaitan dengan pengetahuan, tetapi juga dapat berhubungan dengan kondisi psikologis seseorang. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa aktivitas membaca, khususnya fiksi, memiliki kaitan dengan suasana hati dan kesejahteraan psikologis.
Salah satu penelitian yang diterbitkan dalam jurnal PLOS ONE pada 2022 menganalisis lima studi mengenai hubungan membaca dan kesehatan mental. Hasilnya menunjukkan bahwa membaca fiksi dapat memberikan dampak positif terhadap beberapa aspek suasana hati dan emosi, meski manfaat tersebut tidak selalu muncul secara langsung setelah seseorang membaca.
Peneliti menjelaskan bahwa manfaat membaca dapat berkaitan dengan proses kognitif setelah seseorang berinteraksi dengan cerita, seperti mengingat kembali atau membicarakan isi bacaan. Artinya, membaca bukan sekadar aktivitas menerima informasi, tetapi juga dapat menjadi pengalaman yang melibatkan proses berpikir dan pengolahan emosi.
Lantas, apakah jarang membaca buku otomatis membuat seseorang lebih sering overthinking? Belum ada bukti ilmiah yang cukup kuat untuk menyimpulkan hubungan sebab-akibat tersebut, sehingga anggapan bahwa orang yang jarang membaca pasti lebih banyak overthinking sebaiknya tidak dipahami sebagai fakta medis.
Overthinking sendiri dapat berkaitan dengan rumination, yaitu kecenderungan memikirkan suatu masalah, pengalaman, atau emosi secara berulang. Penelitian yang diterbitkan dalam British Journal of Clinical Psychology menjelaskan bahwa rumination dan worry memiliki kaitan dengan munculnya, bertahannya, serta risiko kambuhnya gejala depresi dan gangguan kecemasan.
Meski begitu, membaca buku dapat menjadi salah satu aktivitas yang membantu seseorang mengalihkan perhatian dari pikiran yang terus berulang sekaligus memberikan ruang untuk memproses pengalaman dan emosi. Penelitian tentang membaca fiksi juga menemukan adanya potensi manfaat terhadap mood dan emosi, walaupun efeknya dipengaruhi oleh bagaimana seseorang terlibat dengan bacaan tersebut.
Oleh karena itu, tidak perlu menjadikan membaca sebagai satu-satunya cara untuk mengatasi overthinking. Namun, menyediakan waktu untuk membaca secara rutin bisa menjadi salah satu kebiasaan positif untuk mengisi waktu dengan aktivitas yang melibatkan perhatian, imajinasi, dan refleksi, terutama jika dilakukan dengan bacaan yang disukai.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....