AI Bisa Jadi Teman Curhat, Tapi Ada Risiko yang Perlu Diwaspadai

  • 12 Agt 2026 12:58 WIB
  •  Bogor

RRI.CO.ID, Bogor – Chatbot berbasis kecerdasan buatan (AI) kini tidak hanya digunakan untuk mencari informasi atau membantu pekerjaan. Banyak orang mulai menggunakannya untuk bercerita, mencari teman bicara, bahkan meminta dukungan ketika sedang menghadapi masalah.

Psikolog Jeffrey N. Pickens dalam artikelnya di laman Psychology Today menjelaskan, percakapan dengan chatbot memang dapat membuat sebagian orang merasa lebih baik. Dalam sejumlah penelitian, interaksi dengan chatbot bahkan menunjukkan manfaat dalam membantu mengurangi rasa cemas.

Namun, penggunaan yang terlalu sering juga memiliki sisi lain. Orang yang semakin bergantung secara emosional pada chatbot justru berisiko merasa lebih kesepian dan mengurangi interaksi dengan orang-orang di dunia nyata.

Menurut Pickens, chatbot memiliki kemampuan untuk memberikan respons yang terasa hangat dan penuh perhatian. Teknologi ini juga dapat menyesuaikan gaya percakapan dengan penggunanya, sehingga seseorang bisa merasa seperti sedang berbicara dengan teman yang selalu siap mendengarkan.

Masalahnya, chatbot tidak memiliki perasaan seperti manusia. Respons yang terlihat penuh empati tetap merupakan hasil dari sistem AI yang dirancang untuk memahami dan menghasilkan bahasa. Karena itu, kedekatan yang terbentuk dengan chatbot tidak sama dengan hubungan antarmanusia yang melibatkan saling memahami, berkompromi, dan menghadapi perbedaan.

Hal tersebut menjadi semakin penting ketika seseorang mulai menganggap chatbot sebagai teman dekat. Psychology Today mencatat, pengguna yang menganggap chatbot sebagai "teman" dan menghabiskan banyak waktu setiap hari untuk berinteraksi dengannya lebih rentan mengalami dampak negatif.

AI juga cenderung memberikan jawaban yang menyetujui atau mengikuti arah pembicaraan pengguna. Dalam jangka panjang, pola tersebut dikhawatirkan membuat seseorang semakin terbiasa dengan percakapan yang selalu sesuai keinginannya. Padahal, hubungan dengan manusia di dunia nyata sering kali membutuhkan kemampuan menerima kritik, menghadapi perbedaan pendapat, dan mencari jalan tengah.

Di sisi lain, perkembangan teknologi ini tetap memiliki peluang positif. Tidak semua orang mudah mendapatkan bantuan profesional ketika menghadapi masalah psikologis. Chatbot yang dikembangkan dengan dasar ilmu psikologi dan dirancang secara tepat berpotensi membantu memperluas akses terhadap dukungan awal.

Meski demikian, chatbot belum dapat menggantikan peran psikolog atau tenaga profesional, terutama ketika seseorang menghadapi masalah kesehatan mental yang serius. AI dapat menjadi sarana untuk berbicara atau mencari informasi awal, tetapi hubungan dengan keluarga, teman, dan tenaga profesional tetap penting.

Perkembangan AI membuat interaksi dengan chatbot terasa semakin natural. Kondisi ini membuat sebagian orang mulai memperlakukan teknologi bukan hanya sebagai sarana bantu, tetapi juga sebagai tempat berbagi cerita dan mencari teman bicara. Karena itu, yang perlu diperhatikan bukan hanya seberapa canggih chatbot dapat berbicara, tetapi juga bagaimana manusia menggunakannya tanpa kehilangan hubungan dengan lingkungan sosial di dunia nyata.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....