Bisakah Seseorang Jatuh Cinta pada AI? Psikolog Jelaskan Alasannya
- 06 Agt 2026 14:17 WIB
- Bogor
RRI.CO.ID, Bogor – Kemampuan chatbot berbasis kecerdasan buatan (AI) yang semakin mirip manusia memunculkan pertanyaan baru: mungkinkah seseorang benar-benar jatuh cinta pada AI? Menurut psikolog, hal itu bukan lagi sekadar cerita fiksi ilmiah, tetapi fenomena yang mulai banyak ditemukan di berbagai negara.
Mengutip laman Psychology Today, aplikasi pendamping berbasis AI kini dirancang mampu mengingat percakapan, memberikan perhatian, serta merespons dengan empati. Bagi sebagian orang, terutama yang merasa kesepian atau membutuhkan teman berbagi, interaksi tersebut dapat menumbuhkan kedekatan emosional hingga berkembang menjadi perasaan romantis.
Psikolog menjelaskan, yang membuat AI terasa begitu menarik bukan karena AI benar-benar memiliki perasaan. Sebaliknya, chatbot dirancang untuk selalu merespons dengan sabar, tidak menghakimi, dan mampu menyesuaikan gaya percakapan dengan pengguna. Hal itu membuat sebagian orang merasa lebih dipahami dibanding saat berinteraksi dengan manusia.
Meski demikian, para ahli mengingatkan bahwa hubungan dengan AI berbeda dengan hubungan antarmanusia. AI tidak memiliki kesadaran, emosi, maupun kemampuan untuk mencintai secara nyata. Respons yang diberikan merupakan hasil pemrosesan data dan pola bahasa, bukan perasaan yang muncul dari pengalaman hidup.
Para peneliti juga menemukan bahwa orang yang lebih mudah menjalin hubungan romantis dengan AI umumnya memiliki tingkat keterbukaan yang tinggi terhadap pengalaman baru atau sedang mencari kedekatan emosional. Namun, hal itu tidak berarti setiap pengguna AI akan mengalami hal yang sama. Faktor kepribadian dan kondisi emosional turut memengaruhi pengalaman masing-masing individu.
Psikolog menilai AI dapat memberikan manfaat sebagai teman berbincang, sarana refleksi diri, atau pendamping saat seseorang merasa kesepian. Namun, hubungan dengan AI sebaiknya tidak menggantikan interaksi dengan keluarga, teman, maupun pasangan di dunia nyata. Hubungan antarmanusia tetap memiliki unsur empati, timbal balik, dan pengalaman bersama yang tidak dapat digantikan oleh teknologi.
Seiring berkembangnya teknologi AI, para ahli mendorong masyarakat untuk memanfaatkan chatbot secara bijak. AI dapat menjadi alat yang membantu kehidupan sehari-hari, tetapi menjaga keseimbangan dengan hubungan sosial di dunia nyata tetap menjadi kunci bagi kesehatan mental dan emosional.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....