Asbes Tak Lagi Dianjurkan, Kenali Bahayanya bagi Kesehatan
- 04 Agt 2026 13:47 WIB
- Bogor
RRI.CO.ID, Bogor – Asbes selama bertahun-tahun menjadi salah satu material bangunan yang banyak dipilih masyarakat karena harganya terjangkau, tahan terhadap panas, dan memiliki daya tahan yang cukup baik. Meski demikian, Kementerian Kesehatan mengimbau masyarakat mulai mengurangi penggunaan bahan tersebut karena risiko kesehatannya jauh lebih besar dibandingkan manfaat yang diperoleh.
Menurut Kementerian Kesehatan, asbes sebenarnya tidak langsung membahayakan ketika kondisinya masih utuh dan tidak mengalami kerusakan. Risiko mulai muncul saat material tersebut retak, lapuk, dipotong, dibor, atau dibongkar sehingga menghasilkan serat-serat halus yang dapat melayang di udara tanpa terlihat oleh mata.
Serat asbes yang terhirup dapat masuk hingga ke paru-paru dan sulit dikeluarkan oleh tubuh sehingga terus menumpuk selama bertahun-tahun. Kondisi ini dapat memicu peradangan kronis yang pada akhirnya meningkatkan risiko terjadinya penyakit paru, termasuk asbestosis, kanker paru, dan mesotelioma.
Yang perlu menjadi perhatian, dampak paparan asbes umumnya tidak langsung dirasakan setelah seseorang menghirup seratnya. Penyakit akibat asbes bahkan dapat baru muncul puluhan tahun kemudian, sehingga banyak orang tidak menyadari bahwa gangguan kesehatan yang dialaminya berkaitan dengan paparan material tersebut di masa lalu.
Atas dasar risiko tersebut, berbagai lembaga kesehatan internasional mendorong penggunaan material bangunan yang lebih aman sebagai pengganti asbes. Langkah ini dilakukan karena hingga saat ini belum ada bukti yang menunjukkan adanya tingkat paparan asbes yang benar-benar bebas risiko bagi kesehatan manusia.
Kementerian Kesehatan juga mengingatkan masyarakat agar tidak sembarangan membongkar atap atau material berbahan asbes yang sudah terpasang di bangunan. Apabila memang harus diganti, proses pelepasan sebaiknya dilakukan dengan prosedur yang tepat agar serat asbes tidak menyebar ke udara dan terhirup oleh penghuni maupun pekerja.
Melalui upaya mengurangi penggunaan asbes dan beralih ke bahan bangunan yang lebih aman, masyarakat dapat menekan risiko gangguan kesehatan dalam jangka panjang. Karena itu, memilih material bangunan sebaiknya tidak hanya mempertimbangkan biaya dan ketahanan, tetapi juga dampaknya terhadap kesehatan keluarga dan lingkungan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....