Kenali Gejala dan Penanganan Hipoglikemia dan Hiperglikemia
- 03 Agt 2026 04:49 WIB
- Bogor
RRI.CO.ID, Bogor - Hipoglikemia dan hiperglikemia merupakan dua kondisi yang sering dialami oleh penderita diabetes dan sama-sama berkaitan dengan kadar gula darah yang tidak normal. Hipoglikemia terjadi ketika kadar gula darah terlalu rendah, sedangkan hiperglikemia terjadi ketika kadar gula darah terlalu tinggi. Kedua kondisi ini dapat menimbulkan komplikasi serius apabila tidak segera dikenali dan ditangani. Oleh karena itu, memahami gejala serta langkah penanganannya sangat penting bagi penderita diabetes maupun orang-orang di sekitarnya.
Hipoglikemia umumnya terjadi ketika kadar gula darah berada di bawah 70 mg/dL. Kondisi ini dapat dipicu oleh penggunaan obat diabetes atau insulin yang berlebihan, terlambat makan, berolahraga terlalu berat tanpa asupan yang cukup, atau mengonsumsi alkohol dalam keadaan perut kosong. Gejala yang sering muncul antara lain tubuh gemetar, berkeringat dingin, jantung berdebar, rasa lapar yang hebat, pusing, sulit berkonsentrasi, hingga perubahan suasana hati. Jika tidak segera ditangani, hipoglikemia dapat menyebabkan penurunan kesadaran, kejang, bahkan koma.
Penanganan hipoglikemia harus dilakukan sesegera mungkin. Salah satu cara yang dianjurkan adalah menerapkan aturan "15-15", yaitu mengonsumsi sekitar 15 gram karbohidrat yang cepat diserap, seperti tiga hingga empat tablet glukosa, setengah gelas jus buah, atau satu sendok makan gula yang dilarutkan dalam air. Setelah itu, tunggu sekitar 15 menit dan periksa kembali kadar gula darah. Jika masih rendah, ulangi langkah tersebut hingga kadar gula kembali normal. Setelah kondisi membaik, konsumsi makanan yang mengandung karbohidrat dan protein untuk membantu menjaga kestabilan gula darah.
Berbeda dengan hipoglikemia, hiperglikemia terjadi ketika kadar gula darah meningkat di atas batas normal. Kondisi ini dapat disebabkan oleh pola makan yang tinggi gula atau karbohidrat, kurangnya aktivitas fisik, stres, infeksi, atau penggunaan obat diabetes yang tidak sesuai. Gejala hiperglikemia biasanya berkembang secara bertahap, seperti rasa haus berlebihan, sering buang air kecil, mudah lelah, penglihatan kabur, mulut terasa kering, dan penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas. Bila dibiarkan, hiperglikemia dapat berkembang menjadi kondisi serius seperti ketoasidosis diabetik atau sindrom hiperglikemik hiperosmolar.
Penanganan hiperglikemia dilakukan dengan menyesuaikan terapi sesuai anjuran dokter, menjaga pola makan yang sehat, memperbanyak konsumsi air putih untuk mencegah dehidrasi, serta tetap melakukan aktivitas fisik ringan apabila kondisi memungkinkan. Penderita diabetes juga dianjurkan untuk rutin memantau kadar gula darah agar dapat mengetahui perubahan sejak dini. Apabila kadar gula darah tetap tinggi disertai mual, muntah, sesak napas, atau penurunan kesadaran, segera cari pertolongan medis karena kondisi tersebut memerlukan penanganan darurat.
Pencegahan hipoglikemia dan hiperglikemia dapat dilakukan dengan menjaga keseimbangan antara pola makan, aktivitas fisik, penggunaan obat, serta pemantauan gula darah secara rutin. Jangan melewatkan waktu makan, konsumsi makanan bergizi seimbang, dan ikuti dosis obat atau insulin sesuai petunjuk tenaga kesehatan. Selain itu, penting bagi penderita diabetes untuk mengenali faktor-faktor yang dapat memicu perubahan kadar gula darah agar dapat mengambil langkah pencegahan lebih awal.
Dengan memahami gejala dan penanganan hipoglikemia maupun hiperglikemia, penderita diabetes dapat lebih siap menghadapi perubahan kadar gula darah serta mengurangi risiko komplikasi yang berbahaya. Pemeriksaan kesehatan secara berkala, edukasi mengenai diabetes, dan komunikasi yang baik dengan dokter atau tenaga kesehatan menjadi kunci dalam menjaga kadar gula darah tetap terkendali dan meningkatkan kualitas hidup.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....