Kusta Bukan Kutukan, Kenali Faktanya agar Tidak Lagi Distigma

  • 27 Jul 2026 10:10 WIB
  •  Bogor

RRI.CO.ID, Bogor – Kusta masih menjadi salah satu penyakit yang sering disalahpahami di masyarakat. Tidak sedikit orang yang menganggap kusta sebagai kutukan atau penyakit yang tidak dapat disembuhkan. Padahal, dengan deteksi dini dan pengobatan yang tepat, kusta dapat disembuhkan sehingga risiko kecacatan dapat dicegah.

Dikutip dari laman Kementerian Kesehatan, kusta merupakan penyakit infeksi kronis yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae. Penyakit ini terutama menyerang kulit, saraf tepi, serta dapat memengaruhi mata dan saluran pernapasan bagian atas jika tidak segera ditangani.

Penularan kusta tidak terjadi dengan mudah. Penyakit ini umumnya menyebar melalui kontak erat dan berkepanjangan dengan penderita yang belum mendapatkan pengobatan. Karena itu, masyarakat tidak perlu takut berlebihan, tetapi tetap perlu waspada dan mengenali gejalanya sejak dini.

Beberapa tanda kusta yang perlu diwaspadai antara lain muncul bercak putih atau kemerahan pada kulit yang mati rasa, penebalan saraf, kesemutan, kelemahan pada tangan atau kaki, hingga luka yang tidak terasa nyeri. Jika mengalami gejala tersebut, masyarakat dianjurkan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan agar mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat.

Kementerian Kesehatan menilai stigma masih menjadi salah satu hambatan terbesar dalam upaya penanggulangan kusta. Rasa malu atau takut dikucilkan membuat sebagian penderita menunda pemeriksaan dan pengobatan. Akibatnya, penyakit dapat berkembang hingga menyebabkan kecacatan yang sebenarnya bisa dicegah.

Padahal, kusta dapat disembuhkan melalui terapi kombinasi obat atau Multi Drug Therapy (MDT) yang tersedia secara gratis di fasilitas pelayanan kesehatan. Setelah penderita menjalani pengobatan, risiko penularan akan berkurang secara signifikan sehingga deteksi dini dan kepatuhan berobat menjadi kunci memutus rantai penularan.

Kementerian Kesehatan mengajak masyarakat untuk menghilangkan stigma terhadap penyandang kusta. Dukungan keluarga dan lingkungan sangat dibutuhkan agar penderita berani memeriksakan diri, menjalani pengobatan hingga tuntas, serta tetap dapat menjalani kehidupan secara produktif tanpa diskriminasi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....