Suka Memencet Bubble Wrap? Psikolog Sebut Bukan karena Kekanak-kanakan
- 13 Jul 2026 22:20 WIB
- Bogor
RRI.CO.ID, Bogor – Banyak orang dewasa mengaku sulit menahan diri untuk tidak memencet gelembung udara pada bubble wrap setelah membuka paket. Kebiasaan yang kerap dianggap kekanak-kanakan ini ternyata memiliki penjelasan ilmiah dalam dunia psikologi.
Mengutip laman The Economic Times, para ahli psikologi menjelaskan bahwa aktivitas sederhana seperti memencet bubble wrap dapat memberikan rasa puas karena melibatkan sentuhan, suara, dan umpan balik yang langsung diterima otak. Kombinasi tersebut mampu mengaktifkan proses psikologis yang berkaitan dengan relaksasi, perhatian, dan sistem penghargaan (reward system).
Setiap gelembung yang berhasil dipecahkan memberikan sensasi pencapaian kecil yang diterima otak sebagai bentuk keberhasilan. Meski terlihat sepele, rangkaian keberhasilan kecil tersebut mampu memunculkan rasa puas dalam waktu singkat sehingga membuat banyak orang ingin terus melanjutkan aktivitas tersebut.
Selain memberikan kepuasan, gerakan berulang saat memencet bubble wrap juga dinilai dapat membantu sebagian orang mengurangi ketegangan. Aktivitas sederhana yang dilakukan secara ritmis memungkinkan pikiran beralih sejenak dari tekanan pekerjaan maupun beban emosional sehingga tubuh terasa lebih rileks.
Psikolog juga menjelaskan bahwa manusia secara alami memiliki rasa ingin tahu terhadap hubungan sebab dan akibat. Saat jari menekan gelembung udara, otak sudah memprediksi akan muncul suara "pop". Ketika prediksi tersebut benar-benar terjadi, otak menerima kepuasan sensorik yang membuat aktivitas itu terasa menyenangkan untuk diulang.
Para ahli menyebut sifat bermain atau playfulness tidak berhenti ketika seseorang beranjak dewasa. Aktivitas ringan yang menghadirkan kesenangan tanpa tujuan tertentu justru dapat membantu menjaga kesejahteraan emosional, mengurangi stres ringan, serta memberikan jeda dari rutinitas yang padat.
Para ahli menegaskan, menyukai bubble wrap bukan berarti seseorang tidak dewasa. Selama tidak mengganggu aktivitas sehari-hari, kebiasaan tersebut merupakan salah satu bentuk respons alami otak terhadap pengalaman sensorik yang sederhana namun memberikan rasa nyaman.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....