PCOS Berganti Nama Jadi PMOS, Dokter Sebut untuk Kurangi Salah Persepsi
- 06 Jun 2026 09:19 WIB
- Bogor
RRI.CO.ID, Bogor – Istilah Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) kini mulai diperkenalkan dengan nama baru, yakni Polymetabolic Ovary Syndrome (PMOS). Perubahan istilah tersebut dilakukan untuk menggambarkan kondisi pasien secara lebih tepat sekaligus mengurangi kesalahpahaman yang selama ini berkembang di masyarakat.
Dilansir dari pbs.org, sejumlah pakar kesehatan menilai nama PCOS kerap menimbulkan persepsi keliru karena tidak semua penderita memiliki kista pada ovarium. Selain itu, gangguan ini juga tidak hanya berkaitan dengan organ reproduksi, tetapi turut memengaruhi sistem metabolisme tubuh.
PMOS dikenal sebagai gangguan hormonal yang dapat menyebabkan siklus menstruasi tidak teratur, jerawat, pertumbuhan rambut berlebih, hingga gangguan kesuburan. Kondisi ini juga sering dikaitkan dengan resistensi insulin, obesitas, diabetes tipe 2, dan peningkatan risiko penyakit jantung.
Para ahli menyebut istilah baru tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat memahami bahwa kondisi tersebut merupakan gangguan kesehatan yang kompleks. Dengan nama PMOS, perhatian tidak hanya tertuju pada ovarium, tetapi juga pada dampak metabolik yang dialami pasien.
Dalam laporan yang sama, para peneliti menjelaskan banyak perempuan mengalami keterlambatan diagnosis karena gejala PMOS kerap dianggap masalah hormonal biasa. Sebagian pasien bahkan baru mengetahui kondisinya setelah mengalami kesulitan memiliki keturunan atau gangguan kesehatan lain yang lebih serius.
Penanganan PMOS umumnya dilakukan melalui perubahan pola hidup sehat, seperti menjaga berat badan ideal, rutin berolahraga, dan mengatur pola makan. Pada beberapa kasus, dokter juga dapat memberikan terapi hormonal atau pengobatan tertentu sesuai kondisi pasien.
Perubahan istilah dari PCOS menjadi PMOS saat ini masih dalam tahap sosialisasi di kalangan medis internasional. Meski demikian, para ahli berharap penggunaan nama baru tersebut dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya deteksi dini dan penanganan gangguan hormonal pada perempuan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....