Hantavirus Perlu Diwaspadai, Penularan dari Tikus ke Manusia Jadi Sorotan

  • 12 Mei 2026 12:21 WIB
  •  Bogor

RRI.CO.ID, Bogor – Hantavirus kembali menjadi perhatian karena berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan serius pada manusia. Penyakit ini dapat berkembang menjadi kondisi berat apabila tidak segera ditangani.

Dalam Dialog Bogor Pagi Ini edisi Selasa, 12 Mei 2026, dokter dari Rumah Sakit Bakti Pajajaran, dr. Ersananda Arlisa Putri, menjelaskan bahwa hantavirus merupakan penyakit zoonosis yang sebenarnya sudah ada sejak dahulu. Penyakit ini dapat menular dari hewan ke manusia terutama melalui tikus atau rodensia.

“Hantavirus sudah lama dikenal secara medis dan bukan penyakit baru. Virus ini pertama kali ditemukan di Korea Selatan pada tahun 1978 dan pernah menyebabkan wabah di Amerika Serikat.” ucap dr.Ersananda.

dr.Ersananda memaparkan bahwa penularan hantavirus ini dapat terjadi melalui berbagai media yang terkontaminasi hewan pengerat seperti tikus. Ia mengatakan urin, kotoran, air liur, hingga debu dari kotoran tikus yang mengering dapat menjadi sumber infeksi.

“Hantavirus ini penularannya dari hewan ke manusia, terutama tikus atau rodensia. Bisa melalui urin, kotoran, air liur, bahkan debu dari kotoran yang sudah mengering. Ya memang paparannya tidak langsung tapi tetap sangat berisiko, ” jelasnya.

Terdapat dua jenis utama hantavirus yang dikenal yaitu Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) dan Hantavirus Pulmonary Syndrom (HPS). Keduanya memiliki dampak berbeda terhadap organ tubuh manusia.

“Penyakit ini juga ada dua jenis yaitu HFRS yang dapat menyebabkan gangguan ginjal hingga komplikasi pada organ hati. Sementara HPS lebih menyerang sistem pernapasan dan dapat berakibat fatal,” katanya.

Ia juga mengatakan bahwa jika suda ada riwayat kontak dengan tikus atau lingkungan yang terkontaminasi, lalu muncul gejala seperti flu, itu harus segera diperiksa. Menurutnya, deteksi dini sangat penting untuk mencegah kondisi menjadi lebih buruk.

“HPS memiliki risiko lebih berat karena dapat menyebabkan gangguan pernapasan hingga gagal napas. Namun kasus jenis ini belum pernah dilaporkan di Indonesia. ” jelasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....