Hantavirus Merebak di Kapal Pesiar, WHO Tingkatkan Waspada
- 12 Mei 2026 09:38 WIB
- Bogor
RRI.CO.ID, Bogor - Wabah hantavirus yang muncul di kapal pesiar ekspedisi kutub M.V. Hondius mengejutkan para ahli kesehatan dunia. Kapal asal Belanda tersebut dilaporkan mengalami sejumlah kasus infeksi serius saat berlayar dari Argentina menuju Kepulauan Canary.
Dilansir dari website www.nationalgeographic.com bahwa Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menyebut virus yang terlibat dalam klaster tersebut adalah Andes virus, salah satu jenis hantavirus yang langka. Hingga kini tercatat delapan kasus, termasuk tiga kematian dan satu pasien dalam kondisi kritis.
Berbeda dengan wabah penyakit di kapal pesiar yang umumnya disebabkan norovirus atau bakteri pencernaan, hantavirus jarang ditemukan dalam lingkungan pelayaran. Kondisi itu membuat para pejabat kesehatan internasional meningkatkan pengawasan terhadap penyebaran penyakit tersebut.
Hantavirus merupakan kelompok virus yang dibawa oleh hewan pengerat seperti tikus tanpa membuat hewan tersebut sakit. Virus dapat menyebar kepada manusia melalui urine, air liur, atau kotoran tikus yang terhirup saat partikel-partikelnya beterbangan di udara.
Penularan biasanya terjadi ketika seseorang membersihkan ruangan tertutup, gudang, atau area yang terkontaminasi sarang tikus. Selain itu, virus juga dapat masuk melalui makanan yang tercemar maupun tangan yang menyentuh benda terkontaminasi lalu mengenai mulut, hidung, atau mata.
Para ahli menjelaskan bahwa sebagian besar jenis hantavirus tidak menular antarmanusia. Namun, Andes virus menjadi pengecualian karena memiliki kemampuan terbatas untuk menyebar melalui kontak dekat antara manusia.
Penularan Andes virus umumnya terjadi pada pasangan yang tinggal serumah, berbagi makanan, atau melakukan kontak fisik intensif. Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa penyebaran virus ini jauh lebih lambat dinbadingkan COVID-19 atau campak.
Gejala awal infeksi hantavirus biasanya berupa demam, gangguan pencernaan, nyeri tubuh, dan kelelahan. Pada kasus berat, kondisi dapat berkembang cepat menjadi pneumonia hingga menyebabkan gangguan pernapasan dan keruntuhan fungsi jantung.
Wilayah Amerika Selatan seperti Argentina, Chili, Brasil, dan Bolivia menjadi daerah dengan kasus hantavirus terbanyak di benua Amerika. Sementara itu, di Amerika Serikat hanya ditemukan belasan hingga puluhan kasus setiap tahun meskipun tikus pembawa virus cukup banyak ditemukan.
Pakar imunologi dari University of New Mexico Health Sciences Center, Steven Bradfute, menyatakan risiko wabah ini bagi masyarakat umum masih tergolong rendah. Menurutnya, hantavirus termasuk virus yang sulit menular sehingga penyebarannya tidak terjadi secara luas dalam waktu cepat.
Saat ini kapal M.V. Hondius masih berada dalam pengawasan setelah sempat ditolak berlabuh di Tanjung Verde. Para penumpang yang masih berada di kapal diminta tetap berada di kabin masing-masing guna mencegah potensi penularan lebih lanjut.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....