Puasa Intermiten Kian Populer, Berikut Fakta Ilmiahnya

  • 23 Apr 2026 15:01 WIB
  •  Bogor

RRI.CO.ID, Bogor: Puasa semakin populer tidak hanya sebagai praktik keagamaan, tetapi juga sebagai strategi kesehatna yang diyakini mampu membantu menurunkan berat badan, mencegah penyakit kronis, hingga memperlambat penuaan. Salah satu metode yang banyka diterapkan adalah puasa intermiten, yakni pola makan dengan membatasi waktu konsumsi kalori dalam jangka waktu tertentu setiap hari.

Dilansir dari website www.nationalgeographic.com bahwa sejumlah penelitian menunjukkan bahwa puasa intermiten dapat memberikan manfaat kesehatan jika dilakukan dengan tepat. Beberapa di antaranya meliputi penurunan tekanan darah, peningkatan fungsi kognitif, serta potensi pencegahan penyakit seperti diabetes dan gangguan jantung.

Meski demikian, para ahli mengingatkan bahwa manfaat tersebut tidak selalu sebesar yang sering digambarkan di media sosial. Beberapa studi memang menemukan penurunan resistensi insulin dan peradangan, namun efeknya dapat bervariasi tergantung kondisi individu dan pola pelaksanaannya.

Di sisi lain, kekhawatiran terkait gangguan hormon akibat puasa juga dinilai berlebihan. Penelitian pada manusia menunjukkan bahwa sebagian besar perempuan tidak mengalami perubahan hormon yang signifikan selama menjalani puasa intermiten.

Manfaat yang paling konsisten dari puasa adalah penurunan berat badan. Sejumlah uji klinis menunjukkan bahwa pelaku puasa intermiten dapat kehilangan persentase berat badan dan lemak tubuh yang cukup signifikan dalam beberapa bulan.

Selain itu, metode ini dinilai lebih mudah dipertahankan dibandingkan diet rendah kalori konvensional. Hal ini menjadi penting karena banyak orang kesulitan menjaga pola diet ketat dalam jangka panjang dan cenderung mengalami kenaikan berat badan kembali.

Namun, hasil optimal hanya dapat dicapai jika puasa dilakukan tanpa kompensasi makan berlebihan saat waktu makan. Selain itu, terdapat risiko penurunan massa otot dan tulang jika asupan protein tidak mencukupi dan tidak diimbangi dengan latihan kekuatan.

Puasa juga berpotensi memperbaiki indikator kesehatan metabolik seperti kadar kolesterol dan tekanan darah. Perbaikan ini umumnya terjadi jika seseorang berhasil menurunkan berat badan secara signifikan, terutama lemak di area perut.

Dalam hal pengaturan gula darah, puasa dapat meningkatkan sensitivitas insulin dan mendorong tubuh menggunakan lemak sebagai sumber energi. Proses ini juga berkaitan dengan mekanisme biologis seperti autofagi, yaitu pembersihan sel dari komponen yang rusak.

Meski memiliki potensi manfaat bagi penderita diabetes tipe 2, puasa tetap harus dilakukan dengan hati-hati. Risiko hipoglikemia dapat meningkat, terutama bagi mereka yang mengonsumsi obat penurun gula darah tanpa penyesuaian dosis.

Manfaat puasa terhadap kesehatan otak masih menjadi perdebatan di kalangan ilmuwan. Beberapa penelitian menunjukkan dampak positif pada penyakit tertentu, tetapi bukti pada individu sehat masih terbatas.

Puasa tidak dianjurkan bagi kelompok tertentu seperti lansia dengan risiko kehilangan massa otot, ibu hamil, serta individu dengan riwayat gangguan makan. Selain itu, jika puasa menimbulkan kelelahan berlebihan atau gangguan tidur, maka perlu dilakukan evaluasi atau penyesuaian.

Para ahli menegaskan bahwa puasa bukan solusi instan untuk kesehatan. Pola makan seimbang, aktivitas fisik rutin, serta hidrasi yang cukup tetap menjadi kunci utama dalam menjaga kondisi tubuh secara optimal.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....