Kewaspadaan Campak Meningkat, Kota Bogor Perkuat Imunisasi dan Deteksi Dini

  • 02 Apr 2026 11:12 WIB
  •  Bogor

RRI.CO.ID, Bogor – Penyakit campak atau morbili merupakan infeksi virus yang sangat mudah menular melalui percikan droplet saat penderita batuk, bersin, maupun berbicara. Gejala umumnya meliputi demam dan ruam merah yang muncul dari belakang telinga lalu menyebar ke seluruh tubuh, dis kematiaertai batuk, pilek, serta mata merah atau berair. Penyakit ini berpotensi menimbulkan komplikasi serius seperti pneumonia, diare berat, hingga kematian, terutama pada balita dan individu yang belum mendapatkan ikomplikasimunisasi.

Dikutip dari laman resmi Dinas Kesehatan Kota Bogor, sepanjang tahun 2026, Indonesia mengalami peningkatan kasus campak yang signifikan dan memicu Kejadian Luar Biasa (KLB) di sejumlah daerah. Hingga minggu ke-11, tercatat 58 KLB di 39 kabupaten/kota pada 14 provinsi, dengan jumlah kasus sempat mencapai 2.740 di awal tahun sebelum menurun menjadi 177 kasus. Penurunan ini terjadi berkat berbagai intervensi, termasuk Outbreak Response Immunization (ORI) dan Catch-Up Campaign (CUC) campak/MR di 102 kabupaten/kota dengan sasaran anak usia 9–59 bulan.

“Campak bukan penyakit ringan karena dapat menyebabkan komplikasi berat hingga kematian. Oleh karena itu, upaya pencegahan harus menjadi perhatian bersama. Kelompok usia 1–4 tahun menjadi yang paling rentan dengan proporsi kasus mencapai 43 persen. Hal ini menunjukkan pentingnya perlindungan imunisasi sejak dini bagi anak-anak,” jelas dr. Erna Nuraena, Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor dalam Siaran Pers pada Rabu, 1 April 2026.

Di Provinsi Jawa Barat, tren peningkatan kasus suspek campak terus terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2024 tercatat 3.414 kasus suspek, meningkat menjadi 7.684 kasus pada 2025. Sementara hingga minggu ke-11 tahun 2026, jumlah suspek telah mencapai sekitar 3.442 kasus.

Kondisi serupa juga terjadi di Kota Bogor, di mana dalam periode 26 Januari hingga 22 Maret 2026 tercatat 1.318 kasus suspek campak dari berbagai fasilitas kesehatan. Sebagian besar laporan berasal dari rumah sakit, sementara sisanya dari puskesmas. Sebaran kasus tertinggi berada di Kecamatan Bogor Barat, disusul Tanah Sareal dan Bogor Selatan, sehingga wilayah tersebut menjadi prioritas penanganan.

“Pemerintah Kota Bogor telah memperkuat sistem surveilans, pelaporan cepat, serta penelusuran kasus untuk menekan penyebaran campak, pelaksanaan CUC campak/MR bahkan telah melampaui target dengan capaian lebih dari 2.300 anak yang diimunisasi. Keberhasilan ini tidak lepas dari kolaborasi puskesmas, posyandu, sekolah, hingga tempat ibadah,” jelasnya.

Selain itu, fasilitas kesehatan termasuk rumah sakit juga meningkatkan kesiapsiagaan melalui triase dini, penyediaan ruang isolasi, serta kelengkapan alat pelindung diri bagi tenaga medis. Pengawasan dilakukan secara ketat oleh tim Pencegahan dan Pengendalian Infeksi guna memastikan penanganan sesuai standar.

“Imunisasi tetap menjadi kunci utama dalam pencegahan campak. Orang tua diimbau tidak menunda pemberian imunisasi dan segera melengkapi jika anak belum mendapatkannya. Saya mengingatkan masyarakat untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala campak, terutama demam disertai ruam merah. Deteksi dini dan penanganan cepat sangat penting untuk mencegah komplikasi dan penyebaran lebih luas,” tutup dr. Erna Nuraena.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....