Benarkah Puasa Membantu Hancurkan Sel Rusak dan Sel Kanker? Ini Kata Riset

  • 23 Feb 2026 22:22 WIB
  •  Bogor

RRI.CO.ID, Bogor – Saat seseorang menahan lapar dalam periode tertentu, seperti saat puasa, tubuh tidak sekadar “kehabisan energi”. Secara ilmiah, tubuh justru mengaktifkan mekanisme adaptif untuk bertahan hidup. Salah satu proses penting yang terjadi adalah autofagi, yaitu sistem daur ulang alami di dalam sel.

Autofagi adalah istilah ilmiah yang berasal dari bahasa Yunani yang berarti “memakan diri sendiri”. Proses ini memungkinkan sel memecah dan mendaur ulang komponen yang rusak atau tidak lagi berfungsi dengan baik. Mekanisme ini pertama kali dijelaskan secara mendalam dalam riset biologi sel dan menjadi perhatian besar dalam dunia medis modern.

Penelitian yang dipublikasikan oleh Yoshinori Ohsumi pada 2016 menunjukkan bahwa autofagi berperan penting dalam menjaga keseimbangan dan kesehatan sel. Saat asupan makanan berkurang, tubuh akan menyesuaikan diri dengan memperlambat proses pertumbuhan sel dan mengaktifkan sistem penghematan energi. Dua mekanisme utama di dalam sel bekerja untuk membantu tubuh bertahan dan menggunakan cadangan energi secara lebih efisien.

Dalam kondisi tersebut, sel membentuk struktur khusus bernama autophagosome yang membungkus bagian sel yang rusak. Struktur ini kemudian bergabung dengan lisosom untuk menghancurkan dan mendaur ulang material tersebut menjadi sumber energi baru. Proses ini membantu tubuh bertahan saat terjadi kekurangan nutrisi.

Beberapa penelitian pra-klinis juga menunjukkan bahwa pembatasan kalori atau puasa dapat memengaruhi lingkungan metabolik sel kanker. Studi dalam jurnal Cell Metabolism dan Nature Reviews Cancer menjelaskan bahwa stres metabolik akibat puasa dapat membuat sebagian sel kanker lebih rentan terhadap terapi tertentu. Namun, para ilmuwan menegaskan bahwa klaim “tubuh memakan sel kanker” merupakan penyederhanaan dari proses biologis yang jauh lebih kompleks.

Pada manusia, bukti klinis langsung mengenai efek puasa terhadap penghancuran sel kanker masih terus diteliti. Sebagian besar data yang ada berasal dari studi laboratorium dan hewan percobaan. Karena itu, puasa tidak dapat dianggap sebagai terapi utama kanker, melainkan masih dalam tahap penelitian sebagai terapi pendukung.

Selain potensi pengaruh terhadap sel abnormal, autofagi juga berperan dalam memperlambat proses penuaan sel. Dengan membersihkan komponen sel yang rusak, tubuh menjaga fungsi jaringan tetap optimal. Inilah sebabnya mengapa puasa sering dikaitkan dengan manfaat kesehatan metabolik dan peremajaan sel secara ilmiah.

Meski demikian, para ahli kesehatan mengingatkan bahwa puasa harus dilakukan dengan kondisi tubuh yang sehat dan tidak menggantikan pengobatan medis. Melakukan konsultasi dengan tenaga kesehatan tetap diperlukan, terutama bagi penderita penyakit kronis. Penelitian tentang autofagi masih berkembang dan terus membuka pemahaman baru tentang cara tubuh menjaga dirinya sendiri saat menghadapi keterbatasan energi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....