Rahasia Kunyit: Bakteri Pembasmi Kanker
- 11 Feb 2026 20:30 WIB
- Bogor
RRI.CO.ID, Bogor - Bakteri tanah kunyit berpotensi antikanker payudara menjadi temuan penting dari kolaborasi peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM). Riset ini mengungkap adanya aktinomisetes yang hidup di rhizosfer atau area sekitar akar kunyit (Curcuma longa L.) yang memiliki aktivitas melawan sel kanker payudara. Temuan tersebut membuka peluang pengembangan obat berbasis mikroba dengan pendekatan yang lebih alami.
Penelitian berjudul “Rhizospheric actinomycetes from turmeric (Curcuma longa L.): Isolation, detection of the biosynthetic gene clusters, and anticancer activity against T47D cancer cells” ini telah dipublikasikan dalam Journal of Applied Pharmaceutical Science pada 5 Februari 2025. Studi tersebut dilakukan oleh tim Pusat Riset Bahan Baku Obat dan Obat Tradisional BRIN bersama akademisi UGM.
Dalam risetnya, para peneliti mengisolasi tujuh bakteri aktinomisetes dari tanah perkebunan kunyit di Karanganyar, Jawa Tengah. Isolat tersebut kemudian diuji terhadap sel kanker payudara T47D melalui serangkaian uji laboratorium. Hasilnya menunjukkan salah satu isolat, yakni TC-ARCL7, memiliki aktivitas antikanker yang sangat kuat.
Isolat TC-ARCL7 tercatat memiliki nilai IC50 sebesar 0,2 µg/ml. Angka ini dinilai lebih rendah dibandingkan obat kemoterapi doxorubicin, kurkumin murni, maupun ekstrak etanol kunyit. Nilai IC50 yang rendah menunjukkan efektivitas tinggi dalam menghambat pertumbuhan sel kanker pada konsentrasi kecil.
Keunggulan lain dari isolat ini adalah tingkat toksisitasnya yang rendah terhadap sel normal. Dengan kata lain, bakteri tersebut memiliki indeks selektivitas tinggi sehingga dinilai lebih aman dibanding terapi konvensional. Hal ini menjadi poin penting dalam pengembangan kandidat obat baru yang minim efek samping.
Peneliti BRIN, Aniska Novita Sari, menyatakan bahwa potensi antikanker tidak selalu berasal langsung dari tanaman obatnya.
“Temuan ini menunjukkan bahwa potensi anti-kanker tidak selalu berasal langsung dari tanaman obat, namun mikroba yang hidup di sekitarnya juga berpotensi memiliki aktivitas yang sama dengan inangnya dan berpeluang dikembangkan lebih lanjut,” ujarnya seperti dikutip dari laman resmi BRIN pada 4 Februari 2026.
Secara genetik, isolat TC-ARCL7 diketahui memiliki klaster gen biosintesis poliketida PKS1 dan PKS2 yang diduga berperan dalam produksi metabolit sekunder antikanker. Bakteri ini juga masih satu famili dengan Kitasatospora misakiensis dan Kitasatospora purpeofusca yang dikenal menghasilkan senyawa bioaktif di bidang farmasi. Meski demikian, peneliti menegaskan studi lanjutan seperti pemurnian senyawa, optimasi produksi, dan uji praklinik tetap diperlukan sebelum dikembangkan menjadi obat antikanker yang aman dan efektif.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....