Lonjakan Self-Harm Anak Dipicu Minim Dukungan Emosional

  • 06 Feb 2026 12:43 WIB
  •  Bogor

RRI.CO.ID, Bogor - Prevalensi perilaku self-harm dan ide bunuh diri pada anak dan remaja menunjukkan tren peningkatan. Hal ini diungkapkan oleh psikiater dr. Lahargo Kembaren, Sp.KJ dalam dialog Bogor Siang Ini – Indonesia Sehat Jumat 6 Januari 2026. Ia menyebut banyak kasus baru terungkap setelah kondisi anak memburuk.

Dr. Lahargo menjelaskan bahwa sebagian besar anak telah lama merasakan tekanan psikologis sebelum melakukan self-harm. Sayangnya, keluhan tersebut sering tidak ditanggapi secara serius oleh lingkungan sekitar. Anak akhirnya memilih melukai diri sebagai bentuk pelampiasan emosi.

Ia menyoroti respons orang tua yang kerap terbatas dan tidak menyentuh kebutuhan emosional anak. “Masih ada yang menanggapi dengan kalimat seperti ‘kurang berdoa’, padahal anak butuh didengarkan,” ujarnya. Menurutnya, pendekatan tersebut justru membuat anak merasa tidak dipahami.

Komunikasi keluarga yang semakin dangkal juga menjadi masalah serius. Dr. Lahargo menyebut bahwa bonding emosional dalam keluarga mengalami penurunan. Akibatnya, anak kesulitan mengekspresikan perasaan dan mencari dukungan.

Selain faktor keluarga, pengaruh media sosial dan internet juga tidak bisa diabaikan. Anak dapat terpapar konten negatif, termasuk informasi tentang self-harm dan bunuh diri. Tanpa pendampingan, paparan ini dapat memperkuat dorongan berbahaya.

Dr. Lahargo menegaskan bahwa bunuh diri bukanlah peristiwa tunggal. Ia merupakan akumulasi dari berbagai faktor yang tidak tertangani sejak awal. Alarm peringatan sering muncul jauh sebelumnya, namun terabaikan karena kurangnya support system.

Ia mengingatkan bahwa kehadiran emosional orang dewasa sangat menentukan. Menurutnya, anak membutuhkan ruang aman untuk bercerita dan divalidasi. Tanpa itu, risiko gangguan mental berat akan terus meningkat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....