Bahaya Tersembunyi Curhat dengan Chatbot AI

  • 27 Jan 2026 12:00 WIB
  •  Bogor

RRI.CO.ID, Bogor - Chatbot berbasis kecerdasan buatan (AI) kini telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Layanan seperti ChatGPT, Claude, Gemini, hingga Copilot tidak lagi hanya digunakan untuk membantu pekerjaan administratif, tetapi juga menjadi tempat berbagi keluh kesah, mencari dukungan emosional, dan menemani pengguna yang merasa kesepian.

Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul kekhawatiran baru. Sejumlah laporan menunjukkan bahwa pada sebagian kecil pengguna, interaksi yang terlalu intens dan berkepanjangan dengan chatbot AI justru dapat memicu atau memperparah gejala gangguan mental, khususnya yang berkaitan dengan psikosis. Dalam kondisi tertentu, AI tidak lagi menjadi alat bantu, melainkan faktor pemicu masalah kesehatan jiwa yang serius.

Dampaknya dilaporkan cukup berat. Beberapa pengguna disebut kehilangan pekerjaan, mengalami keretakan hubungan sosial, hingga harus menjalani perawatan psikiatri secara paksa. Dalam kasus ekstrem, interaksi dengan chatbot bahkan dikaitkan dengan penangkapan dan pemenjaraan, meski detail kasus-kasus tersebut masih terbatas.

Fenomena ini mendorong munculnya kelompok dukungan daring bagi individu yang merasa kehidupannya memburuk setelah terlalu jauh terlibat secara emosional dengan chatbot. Istilah “psikosis AI” atau “psikosis ChatGPT” pun mulai beredar di ruang publik, meski hingga kini belum diakui sebagai diagnosis medis resmi.

Dikutip dari nationalgeographic.grid.id sejumlah psikiater dan peneliti mengakui adanya pola yang tidak bisa diabaikan. Mereka menilai dunia medis masih tertinggal dalam memahami dampak psikologis interaksi manusia dengan AI. Data ilmiah yang tersedia masih minim, sementara pedoman penanganan bagi tenaga kesehatan belum terbentuk secara jelas.

Istilah psikosis AI sendiri merujuk pada kondisi ketika seseorang mulai mengembangkan delusi atau keyakinan menyimpang yang tampaknya dipicu atau diperkuat oleh percakapan dengan chatbot. Namun, profesor studi psikosis dari King’s College London, Dr. James MacCabe, menilai istilah tersebut kurang tepat secara klinis.

“Istilah ini biasanya digunakan untuk menggambarkan sekumpulan gejala seperti gangguan berpikir, halusinasi, dan delusi. Dalam kasus yang dilaporkan, yang paling menonjol sebenarnya adalah delusi, bukan keseluruhan spektrum psikosis,” ujar MacCabe.

Para ahli menekankan bahwa fenomena ini bukanlah gangguan baru, melainkan kerentanan lama yang muncul dalam konteks teknologi baru. Cara chatbot dirancang—meniru bahasa pengguna, memvalidasi asumsi, dan menjaga percakapan tetap berjalan—dinilai memberi kenyamanan bagi banyak orang, namun pada individu rentan justru berpotensi memperkuat pola pikir yang menyimpang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....