Rebung, Superfood Baru dari Alam
- 25 Jan 2026 12:36 WIB
- Bogor
RRI.CO.ID, Bogor : Penelitian terbaru dari Anglia Ruskin University (ARU), Inggris, yang dilaporkan melalui Science Daily, mengungkap rebung bambu memiliki potensi besar sebagai makanan super. Studi tersebut merupakan tinjauan ilmiah pertama yang secara khusus membahas bambu sebagai sumber pangan masa depan dan menunjukkan bahwa tanaman ini menyimpan manfaat kesehatan yang luas, bukan sekadar bahan kuliner tradisional.
Dalam publikasi ilmiah di jurnal Advances in Bamboo Science berjudul “Bamboo consumption and health outcomes: A systematic review and call to action” pada 13 November 2025, rebung ditemukan memiliki profil gizi kuat. Peneliti ARU mencatat kandungan protein yang tinggi, serat sedang, lemak rendah, serta vitamin dan mineral seperti selenium, kalium, vitamin A, B6, E, niasin, dan tiamin. Analisis uji in vivo dan in vitro dalam studi itu menunjukkan rebung mampu membantu mengontrol gula darah dan memperbaiki profil lipid yang berhubungan dengan risiko diabetes dan penyakit jantung.
Peneliti senior, Prof. Lee Smith, menjelaskan kepada Science Daily bahwa manfaat kesehatan tersebut kemungkinan berasal dari nutrisi dan ekstrak bambu yang kaya protein, asam amino, karbohidrat, serta berbagai vitamin. Ia juga menekankan bahwa serat alami dalam bambu seperti selulosa, hemiselulosa, dan lignin dapat membantu fungsi pencernaan serta meningkatkan aktivitas antioksidan yang melindungi tubuh dari stres oksidatif.
Dalam laporan yang sama, tim laboratorium ARU menemukan bahwa komponen bambu menunjukkan efek probiotik alami. Bambu dilaporkan mampu mendukung pertumbuhan bakteri baik usus dan membantu mengurangi pembentukan furan serta menurunkan produksi akrilamida, dua zat beracun yang bisa terbentuk pada makanan yang digoreng atau dipanggang. Temuan ini memperkuat potensi bambu sebagai bahan pangan sehat dan berkelanjutan.
Meski kaya manfaat, publikasi Advances in Bamboo Science juga menegaskan adanya risiko keamanan pangan apabila bambu tidak diolah dengan benar. Beberapa jenis bambu mengandung sianogen glikosida, senyawa yang dapat melepaskan sianida ketika dikonsumsi mentah atau kurang matang. Studi yang dikutip dalam tinjauan tersebut menemukan senyawa lain yang dapat mengganggu produksi hormon tiroid, sehingga rebung harus direbus atau dipanaskan terlebih dahulu sebelum dikonsumsi.
Prof. Lee Smith menambahkan bahwa tradisi masyarakat Asia yang telah lama mengonsumsi rebung menunjukkan bahwa bambu memiliki potensi besar sebagai makanan sehat berkelanjutan. Namun, ia mengingatkan melalui laporan yang dikutip Science Daily bahwa hanya empat studi berbasis manusia yang memenuhi kriteria ilmiah dalam tinjauan tersebut. Karena itu, diperlukan lebih banyak penelitian skala besar sebelum rekomendasi konsumsi dapat ditetapkan secara pasti.
Hasil penelitian lengkap tentang rebung bambu tersebut dimuat dalam jurnal Advances in Bamboo Science dan menjadi dasar kesimpulan bahwa bambu berpeluang menjadi superfood global jika diolah dengan benar dan dibuktikan lebih lanjut melalui riset lanjutan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....